Enam Daerah di Jatim Masuk Level 1 

Enam Daerah di Jatim Masuk Level 1 

ASESMEN situasi Covid-19 di Jawa Timur menunjukkan hasil yang kian membaik. Sejak kemarin (13/9), daerah yang masuk PPKM level 1 menjadi 6 daerah. Penambahan tersebut terbilang cukup signifikan. Sebab, empat hari lalu baru Lamongan saja yang masuk level 1.

Lima daerah itu: Sidoarjo, Pasuruan, Jember, Gresik, dan Banyuwangi. Sedangkan, level 2 ada 19 kabupaten/kota. Dan level 3 ada 13 kabupaten kota. Kemajuan itu dibuktikan oleh angka indikator pada asesmen yang membaik. 

Dua indikator transmisi komunitas sudah level 1. Pertama, angka konfirmasi positif mencapai 8,93 per 100 ribu penduduk per minggu. Kedua, angka kematian mencapai 0,96 per 100 ribu penduduk per minggu. 

Hanya angka rawat inap rumah sakit saja yang masih level 2. Yakni mencapai 6,89 per 100 ribu penduduk per minggu. Sedangkan, angka tracing, testing, dan treatment sudah memadai.

Namun, situasi yang melandai tersebut tidak berarti aman. Masih banyak PR yang harus diselesaikan. Salah satunya, kedatangan pekerja migran yang membeludak. Yang terus memenuhi rumah sakit lapangan beberapa minggu belakangan.

“Itu PR bagi Jawa Timur. Harus super waspada,” ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Sebab, pekerja migran dari 26 provinsi pulang lewat Jatim. Yakni melalui Bandara Juanda, Surabaya. Apalagi kemunculan varian baru seperti MU sedang marak di 39 negara.

Khofifah menyatakan telah mempersiapkan tempat tambahan untuk karantina para pekerja migran yang baru tiba. Yaitu mengalihfungsikan RS BPWS Bangkalan menjadi Rumah Karantina. “Dulu BPWS disiapkan untuk RS isolasi, saat ini sedang dipersiapkan untuk rumah karantina,” jelasnyi.

Sementara itu, Plt Dinas Kesehatan Jatim dr Kohar Hari Santoso menanggapi soal varian MU tersebut. Ia memastikan hingga kini belum ada varian baru yang masuk wilayah Jatim. Hasil whole genome sequencing (WGS) dari para pakar terhadap sampel pasien pekerja migran pun masih tetap sama. Yang terbanyak varian Delta.

“Sampai sejauh ini tidak ada data yang menunjuk ke varian MU,” ujarnya. Namun, ia meminta agar penerapan protokol kesehatan tetap didisplinkan. Sebab, kata Kohar, itu merupakan perlindungan efektif untuk menghadapi varian apa pun. (Mohamad Nur Khotib)

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: