Dubes RI di Singapura: Kasus Melonjak, Tidak Ada RS Penuh

Dubes RI di Singapura: Kasus Melonjak, Tidak Ada RS Penuh

Di saat kasus Covid-19 di Indonesia melandai, negara tetangga, Singapura, justru sedang menghadapi gelombang kedua. Kasus harian di Singapura mencapai 1.000 kasus. Besar untuk ukuran negara dengan penduduk 5,7 juta. Negara yang 83 persen penduduknya sudah divaksin itu diserang Covid-19 varian delta. Apakah ini akan berbahaya bagi Indonesia? Berikut wawancara dengan Dubes RI di Singaputa Suryopratomo.

 

Sejak kapan terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Singapura?

Kasus mulai agak tinggi itu sekitar 23 Agustus lalu. Kalau di Indonesia kan sudah sejak Juni lalu.

 

Apa penyebabnya?

Serangan varian delta. Kali pertama masuk ke Singapura pada Mei. Dan kita bersama tahu varian itu daya tularnya luar biasa. Dari Mei sampai Agustus itu kasusnya terus meningkat. Dari 90, 100, sekarang sampai 1000-an.

 

Bagaimana kondisi saat varian Delta kali pertama masuk kesana?

Yang meninggal ada 4 orang saat itu. Tapi jumlah orang yang masuk rumah sakit dan bahkan ruang ICU tidak banyak. Artinya, Pemerintah Singapura mengantisipasi jangan sampai yang terpapar ini sakitnya sampai parah. Jadi semua bisa dikendalikan.

 

Apakah saat ini RS penuh seperti yang banyak diberitakan oleh media?

Tidak ada RS penuh di sini. Pemerintah Singapura berupaya agar pasien yang bergejala ringan tidak dirawat di RS. Agar beban tenaga kesehatan tidak berat. Jadi kalau yang gejalanya ringan akan melakukan isolasi mandiri. Tidak ada RS penuh. Biasa saja. Ruang ICU saat ini saja hanya diisi 19 pasien dari kapasitas 1000 bed.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: