Pasuruan artikel

First Impression Juvenile Justice: Anak-Anak yang Bikin Darah Tinggi  

First Impression Juvenile Justice: Anak-Anak yang Bikin Darah Tinggi   

Netflix lagi-lagi mengangkat tema yang out of the box buat serial orisinalnya. Juvenile Justice, yang dirilis pekan lalu (25/2), menyuguhkan kelamnya dunia kriminal anak-anak. Dan bagaimana sistem hukum di Korea—mungkin juga di seluruh dunia—dibuat kewalahan karenanya. 

 

MENGURUSI sistem hukum dan peradilan untuk anak di bawah umur itu—ternyata—tricky banget. Bagaimana tidak? Efek kejahatan mereka sering kali menyamai tindak kriminal orang dewasa. Bahkan kadang lebih mengerikan. Namun, mereka tidak bisa dihukum seperti orang dewasa. Ada aspek-aspek pendidikan, pembinaan, dan perlindungan yang harus dipenuhi.

Mereka tidak bisa serta-merta dilempar ke penjara. Hukuman mereka adalah dikirim ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Yang mana mereka tetap bisa sekolah dan diberi konseling. Juga ada pelatihan keterampilan. Agar ketika bebas, bisa langsung terjun di masyarakat.

’’Disekolahkan’’ di Lembaga Pembinaan memang hukuman setimpal. Buat tindak-tindak kejahatan yang ringan. Seperti mengutil atau menjambret. Atau menganiaya teman sekolah. Tapi, bagaimana kalau kejahatannya mengerikan? Misalnya… pembunuhan berencana?

Itulah yang dihadapi Hakim Shim Eun-sok (Kim Hye-soo) ketika kali pertama bertugas di Divisi Pidana Anak Pengadilan Negeri Yeonhwa. Ia menangani kasus pembunuhan yang dilakukan anak SMP berusia 13 tahun. Korbannya adalah tetangga apartemennya sendiri, usianya 8 tahun. Setelah dibunuh, si bocah dimutilasi. Potongan tubuhnya dibuang di tempat-tempat terpisah.

Masih membawa senjata pembunuh dan berlumur darah, si bocah menyerahkan diri ke polisi. Alhasil, berkasnya cepat lengkap. Ia disidang. ’’Menurut hukum, aku masih di bawah umur. Jadi aku enggak akan dipenjara, kan?’’ Si bocah menantang dengan penuh percaya diri. Ia tahu betul, hukum tidak akan menjeratnya seperti orang dewasa.

AKTRIS BELIA Lee Yeon berperan sebagai bocah lelaki pelaku pembunuhan berencana dalam episode pertama Juvenile Justice. 

Nyebelin, bukan?

Tidak mengherankan kalau Shim Eun-seok benci sekali kepada anak-anak pelaku kriminal. Ia menjadi hakim anak karena ingin menghukum mereka seberat-beratnya. Ia sering bertindak di luar prosedur untuk membuktikan bahwa terdakwa anak benar-benar bersalah. Agar bisa dijatuhi vonis maksimal.

Hal itu bertentangan betul dengan sang partner, Cha Tae-joo (Kim Mu-yeol). Sesama hakim anggota di Pengadilan Negeri Yeonhwa. Tae-joo sangatlah welas asih, sangat lembut dan perhatian kepada terdakwa. Tujuan ia mengadili mereka adalah agar mereka bisa dibina dan diperbaiki. Ia memegang prinsip bahwa pelaku kejahatan anak juga merupakan korban.

Tentu Shim Eun-seok dan Cha Tae-joo sering berantem. Namun, toh dalam kasus-kasus tertentu, mereka harus mengesampingkan perbedaan prinsip. Dan bekerja sama membongkar kasus. Ya, membongkar. Akibat ambisi Shim Eun-seok, di sini hakim tidak hanya memvonis berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan. Tapi juga menginvestigasi sendiri…











Tamparan Buat Orang Tua

Dalam kasus-kasus yang dihadapi Shim Eun-seok, rata-rata terdakwanya sungguh bikin darah tinggi. Kejahatannya bukan sekadar ’’kenakalan remaja’’. Kenakalan terjadi karena mereka belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Bukan itu.

Sumber: