Mengitari Petilasan Leluhur serupa Fraktal UFO

Mengitari Petilasan Leluhur serupa Fraktal UFO

Sebuah rumah adat Pacenan khas Jember dibangun di atas tanah seluas 4 ribu meter persegi. Upaya pelestarian yang dilakukan oleh Alit Indonesia itu sekaligus untuk membangkitkan ritus Sandhor dan upacara Rokatan.

Di Dusun Mujan, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Jember, Alit Indonesia mengajak para remaja setempat untuk membangun dan memajukan desa mereka melalui program Dewa Dewi Rama Daya. Singkatan dari Desa Wisata Agro, Desa Wisata Industri, Ramah Anak dan Berkebudayaan.

Program tersebut telah diselenggarakan di 12 desa di 9 kabupaten/kota. Surabaya, Malang, Pasuruan, Batu, Jember, Banyuwangi, Gianyar, Sikka, Sumenep), dan tiga provinsi yakni Jawa Timur, Bali dan NTT.

Di Dusun Mujan misalnya, Alit membangun rumah Pacenan berukuran 5x7 meter. Itu bukan semata membangun sesuatu, namun itu untuk memajukan desa dan melestarikan budaya setempat. ”Rumah Pacenan itu harus dibangun karena itulah rumah adat yang bakal musnah kalau tidak kita pedulikan,” ungkap Yuliati, Direktur Alit Indonesia.

Menurut tradisi setempat, pembangunan rumah selalu didahului dengan upacara Rokatan, semacam syukuran, agar penghuni rumah senantiasa diberi keselamatan, juga ritual Sandhor.

Penduduk setempat yang mendekat ke rumah Pacenan yang dibangun oleh Alit Indonesia. Mereka antusias melihat ritus Sandhor yang digelar setelah dihelat upacara Rokatan di dalam rumah Pacenan.

Selain untuk syukuran pembangunan rumah, ritual Sandhor biasanya diselenggarakan setiap terdapat acara hajatan tingkepan atau perayaan 40 hari lahirnya bayi.

Juga hajatan khitanan atau ruwatan desa saat bulan Suro. Acara-acara khusus seperti warga yang bernazar demi tujuan kesembuhan anaknya, juga kerap mengadakan upacara Sandhor.

Biasanya, Sandhor dilakukan dengan mengitari petilasan leluhur yang terdapat sisa batuan pondasi candi di salah satu sudut desa tersebut. Namun, untuk pembangunan rumah, para warga cukup membuat garis lingkaran yang lebar.

Lantas dengan dibatasi oleh tumpukan kelapa kering. “Para warga melakukannya di atas tanah yang dibuat menyerupai fraktal UFO,” gurau Yuliati.

Pembatas kelapa kering itu memiliki fungsi sebagai penyubur tanaman. Membunuh bakteri dalam tanah, sehingga berguna bagi pertumbuhan tanaman. ”Kami juga mengajak warga untuk menanam tanaman produktif. Selama ini hasil tanaman mereka adalah mawar dan kopi. Lebih diperkaya lagi untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkap perempuan 47 tahun itu.

Usai Rokatan diselenggarakan, ritual Sandhor dimulai. Beberapa warga beranjak menuju tanah lingkaran dengan pembatas buah kelapa kering tersebut. Di sana, mereka yang mengenakan sarung dan kopiah, bergandengan tangan, hening sejenak, kemudian bersama-sama merapal mantra.

Bahasa mantra Sandhor yang digunakan bukanlah bahasa Jawa, Madura atau Indonesia. Melainkan bahasa yang tak dapat dipahami oleh siapapun. Bahasa tersebut biasanya diperoleh oleh laki-laki terpilih di desa melalui mimpi.

Sebenarnya pelestari Sandhor di Dusun Mujan hanya tinggal Babur Rohman seorang. Yuliati dan kawan-kawan sepakat mengangkatnya sebagai ketua tradisi Sandhor di kampung tersebut. Mantra yang diucapkan dalam ritus pembukaan rumah Pacekan pun diucapkan berdasarkan petunjuk dari Mbah Babur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: