Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Trauma Adopsi di Usia 6 dan 9 Tahun (35)

Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Trauma Adopsi di Usia 6 dan 9 Tahun (35)

Tangisan pecah saat Bob Schelens mewawancarai Sumi Kasiyo dan Tim van Wijk di Restoran Kayyana, Sabtu, 6 Agustus 2022.-Abimanyu Ardiansyah/Harian Disway-

Sumi Kasiyo dan kekasihnya, Tim van Wijk, selalu pulang kampung bersama-sama ke Indonesia dalam dua tahun terakhir. Di seri sebelumnya terungkap drama mencengangkan pencarian orang tua kandung Tim van Wijk. Setelah mendengar Sumi, kisahnyi tak kalah dramatis.

Wajah ceria Sumi Kasiyo mendadak berubah di tengah pengambilan video film dokumenter bikinan Bob Schellens, Sabtu, 6 Agustus 2022. Sesaat dari sudut mata yang mulai terpejam itu mengalir air bening. Sumi mengusap pipinyi yang sudah mulai basah.

Tim van Wijk yang duduk di sampingnyi mencoba menenangkan. Ia merentangkan tangannya di pundak sang kekasih. Sumi menarik napas panjang untuk menenangkan diri dan mencoba melanjutkan cerita.

Saya dan wartawan Disway Internship Programme (DIP) Batch I yang menyaksikan hal tersebut saling berpandangan. Kami tak tahu apa yang mereka bicarakan. Bob yang juga anak adopsi mewawancarai mereka pakai bahasa Belanda.


Proses pengambilan film dokumenter bikinan Bob Schellens dengan bantuan Abimanyu Ardiansyah dari Harian Disway.-Salman Muhiddin/Harian Disway-

”Kisah Sumi sangat menyedihkan,” ujar pendiri Yayasan Mijn Roots Ana Maria van Valen yang melihat di kursi seberang bersama kami. Ana juga anak adopsi yang kini membantu pencarian orang tua kandung dari 3.040 anak-anak Indonesia yang sebagian besar dibawa paksa ke Belanda. Perempuan yang menemukan keluarganyi di Bogor itu sudah mahir berbahasa Indonesia.

Sumi lahir di Trenggalek. Ia dibawa ke Belanda pada 1979 pada usia 4 atau 6 tahun. Dia tak ingat pastinya. Yang jelas, saat itu dia belum masuk sekolah TK. Hidupnyi begitu bahagia dengan keluarga yang penuh kasih sayang.

Balita sebenarnya sudah bisa merekam memori. Berdasar studi dari Fiona Jack dari University of Otago di New Zealand, kenangan pertama anak sudah terbentuk sejak umur 2 tahun. Mereka bisa mengingat peristiwa unik.

Bayangkan, betapa mengerikannya situasi yang dialami Sumi. Seandainya usianyi saat itu 6 tahun, dia sudah mahir berbicara. Pakai bahasa Indonesia dan Jawa. Namun, tiba-tiba dia dibawa ke benua lain. Trauma mendalam masih terasa hingga sekarang.

Yang lebih mencengangkan, Sumi diadopsi bersama kakak kandungnyi, yakni Suyatmi, yang saat itu sudah 9 tahun. Sudah sekolah SD. Ini kasus yang sangat langka: ada orang tua yang merelakan dua anak kandungnya sekaligus.


Sumi dan Suyatmi, kakak beradik yang diadopsi dari Trenggalek ke Belanda. -Sumi Kasiyo for Harian Disway-

Tentu memori Suyatmi lebih dalam tentang tanah kelahirannyi. Anda bisa membayangkan bagaimana hari-hari mereka dibayangi dengan rasa ketakutan. Jauh dari keluarga dan tiba-tiba bertemu dengan segala sesuatu yang asing. 

Sumi dan kakaknyi tinggal di, Ngruno, Tasik Madu, Trenggalek. Daerah pegunungan dengan pemandangan pantai selatan yang menawan. 

Ingatan akan Tasik Madu masih melekat di kepala Sumi. Dia adalah anak yang hidup dengan kebahagiaan. Main di pantai dan memanjat pepohonan dengan anak-anak lainnya.

Dia hidup di daerah terpencil. Tak pernah sekali pun melihat kehidupan kota. Jangankan gedung-gedung tinggi, mobil pun jarang berkeliaran di desanyi.

Tiba-tiba jalan hidup mereka dibelokkan secara tajam. Mereka harus tinggal dengan pasangan asal Belanda. 

Mereka juga tak pernah melihat orang kulit putih sebelumnya. Orang kota saja tidak pernah ketemu, apalagi orang kulit putih dari Eropa.

Hidup mereka seperti dimulai dari nol. Semua memori tentang Tasik Madu harus dihapus untuk memulai kehidupan baru.


Pemandangan kampung halaman Sumi di Tasikmadu,Trenggalek.-Sumi Kasiyo for Harian Disway-

Di mana ibu? Di mana paman? Di mana kakak-kakakku? Di mana aku sekarang? Siapa orang kulit putih yang membawaku sekarang? Mengapa bahasa mereka berbeda?

Ini tempat apa? Mengapa rasanya begitu dingin? Di mana nasi dan ikan di piring kami? Mengapa kami tak lagi bisa memakannya?

Di mana pohon-pohon kelapa dan palem yang terlihat di halaman rumahku? Dahulu semuanya serbahijau. Mengapa di sini sangat gersang? 

 ”It’s hard for me to tell. It was very traumatic (Sangat sulit aku menceritakannya. Itu sangat traumatis, Red),” kata Sumi. Karena itulah, ia selalu menangis ketika menceritakan masa lalunyi. (Salman Muhiddin)

 

Ingat Detail Kampung Halaman di Trenggalek. BACA BESOK!




Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: