Hanya RS Saiful Anwar Malang yang Dapat Fomepizole

Hanya RS Saiful Anwar Malang yang Dapat Fomepizole

PEMBELI sedang memilih obat (Senin, 7/11/2022)-David Ubaydulloh-

SURABAYA, HARIAN DISWAY- KEMENTERIAN Kesehatan mengeklaim kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA) menurun. Tercatat per 5 November, total mencapai 324 kasus. Perinciannya, 102 orang sembuh, 194 orang meninggal, dan 28 orang masih dirawat.

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, jumlah kasus GGAPA turun drastis. Itu akibat pelarangan konsumsi obat sirup melalui Surat Edaran Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan pada 18 Oktober. Disusul dengan revisi 198 obat sirup yang boleh beredar kembali.

Penyebab utama GGAPA memang sudah diketahui. Yakni, akibat konsumsi dua senyawa berbahaya yang terkandung dalam obat sirup. Yakni,  etilena glikol (EG) dan dietilena glikol (DEG). Keduanya merusak ginjal lantaran jumlah kandungannya melebihi ambang batas aman. 

Itu berdasar data yang dilaporkan dari seluruh RS di 28 provinsi. Kini Kemenkes terus berupaya menekan jumlah kasus hingga 0. Ia meminta seluruh dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota untuk mengawasi secara ketat. Supaya tidak lagi merekomendasikan pemberian obat sirup baik dari apotek maupun faskes lain. 

”Mohon bantuan. Kontrol pemberian obat di apotek dan bidan kita. Untuk melindungi para balita kita,” ujar Budi dalam keterangan pers, Senin, 7 November 2022. 

Kabar baiknya, Fomepizole diketahui menjadi obat penawar yang ampuh. Mayoritas pasien sembuh setelah diberi antidotum tersebut.

Fomepizole yang didatangkan Kemenkes dari luar negeri itu kebanyakan bersifat donasi gratis dari negara-negara sahabat. Distribusinya pun diperluas. Tidak hanya di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), tetapi di 17 rumah sakit di 11 provinsi. 

Kini total sekitar 246 vial yang disebar ke 17 RS rujukan tersebut. Fomepizole memang terbukti mampu mengintoksinasi EG dan DEG dalam darah. Obat terapi itu diberikan gratis kepada pasien. Tercatat 95 persen pasien anak di RSCM menunjukkan perkembangan yang terus membaik setelah diterapi. 

Sayangnya, dari 17 daftar RS rujukan itu, hanya ada satu RS di Jawa Timur. Yaitu, RS Saiful Anwar (SA), Kota Malang. RSUD dr Soetomo di Surabaya tidak termasuk. 

Kali terakhir, RSUD dr Soetomo menerima beberapa vial dari Kemenkes pada 27 Oktober. ”Alhamdulillah. Sampai sekarang masih tersedia. Semoga bisa membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujar Titis Risa Wijayanti, Humas RSUD dr Soetomo, saat dihubungi kemarin.

Hingga kini, jumlah kasus GGAPA di Jawa Timur lebih dari 30 kasus. Perinciannya, 16 kasus meninggal, 14 sembuh, dan 1 pasien masih dirawat di RS SA Malang. 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan bahwa hingga kini pemkot belum menerima Fomepizole dari pemerintah pusat. Ia masih menunggu pemberian obat tersebut. ”Karena yang dihitung dari pusat itu melalui kementerian ke provinsi nanti,” ungkapnya.

Mantan kepala Bappeko Surabaya itu juga kembali menegaskan bahwa pemkot melarang peredaran obat sirup di Surabaya. Itu mengacu pada SE No 443.33/34928/436.7.2/2022 tentang Kewaspadaan Dini terhadap GGAPA yang ditujukan ke seluruh pelayanan kesehatan se-Kota Surabaya. Tidak hanya untuk fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), SE tersebut juga ditujukan kepada semua organisasi profesi di bidang kesehatan.

”Jadi, kami tetap akan menjalankan SE. Sebelum ada kejelasan dari Kemenkes, kami akan melakukan pelarangan terkait dengan sirup tadi,” ujar Eri kepada wartawan kemarin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: