Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Tetap Sekolah Tanpa Paham Bahasa Belanda (73)

Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Tetap Sekolah Tanpa Paham Bahasa Belanda (73)

Suyatmi (kanan) dan adiknyi Sumi Kasiyo memeluk boneka saat mereka sudah berada di Belanda.-Dok Suyatmi-

Hidup Suyatmi de Vries harus dimulai dari nol pada usia 9 tahun. Dia dipindahkan secara paksa ke Belanda untuk hidup dengan orang tua baru. Dia harus sekolah tanpa menguasai bahasa Belanda sama sekali. 

COBA bayangkan bagaimana rasanya jadi Suyatmi saat usianyi 9 tahun. Umumnya, di usia itu anak sudah kelas III SD. Sudah tahu banyak hal. Sudah punya banyak teman pula. Kehidupan berjalan normal seperti anak kecil pada umumnya.

Tiba-tiba dalam sekejap Anda dipindahkan ke Belanda. Tak ada yang memberi tahu Anda apa alasannya. Termasuk sang ibu kandung.

Semuanya terasa serba-asing. Orang-orang Eropa itu berbicara bahasa aneh yang tak pernah terdengar di telinga. 

Tubuh mereka begitu tinggi. Kulitnya sangat putih. Beberapa orang berambut pirang. Makanannya pun beda. Tidak ada nasi dan ikan yang biasa dihidangkan. Sebab, Suyatmi hidup di keluarga nelayan.

Suyatmi seperti masuk ke dunia lain. Jangankan Eropa, gedung-gedung tinggi di Surabaya dan Jakarta saja dia tak pernah tahu. 


Suyatmi menyandingkan fotonyi dengan sang putri ketika mereka sama-sama 9 tahun.-Dok Suyatmi-

Namun, hebatnya, Suyatmi bisa menghadapi semua itu. Tak semua anak adopsi bisa berdamai dengan keadaan seperti dia. Terlebih, proses adopsinyi dilakukan ketika sang anak beranjak ke remaja. 

I was an easy girl to blend in. I was a shy little girl. But it was very difficult for my sister (Aku adalah gadis kecil yang mudah menyatu. Aku gadis pemalu. Tapi, bagi saudariku, itu sangat sulit, Red),” ujar Suyatmi pekan lalu.

Sumi Kasiyo, adiknya, tak bisa menerima keadaan. Dia risi jika disentuh-sentuh orang karena warna kulitnyi berbeda. Karena itulah, trauma yang dialami Sumi lebih besar.

Entah mengapa, Suyatmi dapat menerima semua rintangan itu. Mungkin dia tak tahu harus bagaimana lagi. Hal paling aman yang dilakukan adalah nurut.

Dia memang sulit menguasai bahasa Belanda. Karena itulah, mereka tak langsung dimasukkan ke sekolah. Mereka diajari bahasa Belanda selama liburan musim panas. ”I still uses bahasa Jawa with Sumi at that time (Aku masih memakai bahasa Jawa dengan Sumi saat itu, Red),” ujarnya.

Apakah Suyatmi masih bisa berbahasa Jawa? Dia menggelengkan kepala. Sudah lama sekali dia tak memakainya. Namun, ketika ada orang ngobrol pakai bahasa Jawa, terkadang ada beberapa kata yang dia ingat.

Sumi pun merasakan hal yang sama. Jadi, jangan rasan-rasan di dekat mereka. Mereka mungkin paham percakapan itu, tapi tak bisa membalasnya dengan bahasa yang sama. 

Hal itu muncul ketika mereka pulang ke Indonesia. Beberapa keluarga masih menetap di Trenggalek. Sedangkan yang sudah pindah ke Gorontalo juga masih pakai bahasa Jawa.

Tentu aneh rasanya bisa mengerti suatu bahasa, tapi tak bisa mengucapkannya lagi. Dan, yang terjadi pada Sumi dan Suyatmi tidak banyak dialami anak adopsi. Sebab, mayoritas anak-anak itu diadopsi ketika masih bayi.

Sebelum masuk sekolah, mereka diajak berwisata dan dikenalkan dengan kehidupan di Belanda pada 1979. Mereka sedikit menguasai kata-kata simpel. Namun, tetap saja kesulitan untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.


Pertemuan Suyatmi dengan keluarganyi di Gorontalo 2005.-Dok Suyatmi-

Saat masuk ke sekolah, dia jadi pusat perhatian. Mungkin dia satu-satunya siswa dengan kulit gelap di sekolah itu. Atau mungkin di kota itu. Empat puluh tahun silam belum banyak pendatang di sana. 

Usia Suyatmi dikurangi tiga tahun. Jadi, dia mengulang kelas I SD. ”It was hard (Sangat susah, Red),” lanjut ibu dua anak itu.

Untungnya, Suyatmi memiliki teman-teman yang menyenangkan. Dia tetap beraktivitas meski masih terseok-seok belajar bahasa Belanda.

Di dekat rumahnyi juga ada gadis Belanda yang jadi teman bermain. Usianyi mungkin terpaut dua atau tiga tahun lebih tua. Dialah yang secara tidak langsung mengajarinyi bahasa Belanda. 

Suyatmi memang bisa berdamai dengan keadaan. Namun, perasaan kangen Indonesia itu tiba-tiba datang tanpa sebab. 

Dan, akhir tahun ini Suyatmi bakal ke Indonesia lagi. Mungkin, dengan bertemu orang-orang baru di keluarganyi, dia bisa mendapatkan kisah adopsinyi secara penuh. Sebab, sang ibu kandung diam seribu bahasa. (Salman Muhiddin)

Kisah dari Jean Luc. BACA BESOK!



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: