Review Honda WR-V, Baca Ini Sebelum Membeli Honda WR-V

Review Honda WR-V, Baca Ini Sebelum Membeli Honda WR-V

Wendy Miharja (kiri) berbincang di depan WR-V di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (10/2/2023)-Julian Romadhon-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Honda Surabaya Center (HSC), mengajak  media untuk merasakan kenyamanan dan kecanggihan mobil small SUV-nya, Honda WRV, Jumat, 10 Februari 2023. Tidak hanya di dalam kota. Kami diajak short touring dari W Super club Surabaya menuju Pandaan, daerah pegunungan di Kabupaten Pasuruan. 

Ada tiga hal yang menjadi catatan Harian Disway setelah menjajal Honda WR-V di jalanan perkotaan, tol, dan tanjakan. Yakni Fun to Drive, Worry-Free, dan Premium Feel. Sesuai dengan unsur yang disematkan Honda pada mobil yang di-launching November tahun lalu ini.

WR-V Fun to Drive

Posisi menyetir yang menyenangkan bisa dirasakan sejak awal. Pengaturan setir yang bisa naik turun (tilt steering) dan maju mundu (teleskopik). Jok yang fleksibel bisa cukup memudahkan saya yang memiliki tinggi 178 cm, menemukan posisi berkendara yang pas.

Jok kulit dengan sandaran kepala yang menyatu (semi bucket), memberikan kenyamanan serta menambah kesan racing pada WR-V tipe teratas, RS yang saya kendarai. Lebar jok yang memadai menyanggah tubuh saya yang terbilang subur ini. Paha pun tersanggah dengan baik. 

Sedikit catatan kecil untuk kenyamanan adalah, konsol tengah yang pendek dan tidak bisa dimajukan. Sehingga tidak bisa digunakan sebagai penyanggah siku saat menyetir.

 

WRV Worry-Free

Di Awal perjalanan kami melewati jalan protokol kota Surabaya yang didominasi oleh kendaraan roda dua. Beberapa kali saya harus menginjak rem secara mendadak, akibat  banyak yang memotong iring-iringan.

 

Beruntung ada sistem Collision Mitigation Braking System (CMBS). Sistem kamera dan perangkat lunak yang mendeteksi pejalan kaki, sepeda dan sepeda motor. Beberapa kali muncul peringatan di tampilan MID.

Memasuki pintu tol Satelit, fitur-fitur Honda Sensing langsung saya coba. Tombol Adaptive Cruise Control (ACC) dan Lead Car Departure Notification System (LCDN) diaktifkan. Jarak dengan mobil di depan saya atur. Tanpa perlu menginjak gas, WR-V warna merah metalik  yang saya kendarai melaju mengikuti kecepatan mobil di depan.

Lane Keeping Assist System (LKAS) dan Road Departure Mitigation (RDM) menambah kesan fun dan aman. Kemungkinan untuk keluar dari jalur sangat kecil. LKAS mengintervensi kemudi saat saat mobil mulai keluar dari jalurnya. “Bisa belok sendiri ya,” kata rekan saya, Asep. Kami yang berada di mobil merasa takjub dengan Fitur-fitur yang ditanamkan pada mobil yang masuk kategori Low SUV ini. 

 

Saya juga mencoba akselerasi dari mesin 1.500 cc dengan tenaga 121 PS dan torsi maksimum mencapai 145 Nm. Lepas dari pintu tol, saya menginjak gas lebih dalam. Mesin meraung di rpm 3 ribu. Sejujurnya saya merasa mobil ini kurang responsif. Hal tersebut juga diamini oleh rekan saya Dona. “Kok koyoke abot yo (sepertinya berat ya),” ujar fotographer yang sudah beberapa kali mengikuti test drive berbagai merk mobil ini. Mungkin efek dari transmisi otomatis cvt. 

 

Suspensi yang terbilang keras, membuat mobil dengan ground clearance 220mm ini, tetap  terasa stabil pada kecepatan tinggi.

WR-V Premium Feels
Sepanjang perjalanan, saya merasakan kekedapan kabin yang luar biasa pada WRV dibanding mobil lain di kelasnya.

Menurut Wendy Miharja, hal tersebut karena penempatan peredam yang baik di beberapa bagian Honda WR-V. “Ada di dashboard, kap mesin. Dan yang tidak ada pada mobil di kelasnya adalah peredam di bawah kabin,” ujar Wendy.

Kesan premium juga terasa pada lingkar setir. Penempatan tombol-tombol pengaturan yang rapi dan terasa rigid. Begitu pula dengan tombol pengaturan AC yang menggunakan sistem automatic climate control. Semakin terasa mewah saat back light tombol menyala.

Desain grill yang menyerupai sarang tawon dan lampu depannya yang sipit juga menyita perhatian saya. Terlihat gahar namun mewah. Karena masih ada sentuhan list-list krom. 

Teknologi  Remote Engine Start (RES) yang disematkan pada small SUV pertama Honda itu. Memungkinkan kita untuk menghidupkan mesin dari jarak 30 meter. Saat memasuki mobil, suhu dalam kabin terasa sejuk. Karena ketika sistem diaktifkan, mesin dan AC menyala secara otomatis.

Ada sebuah pengalaman yang menarik dan tidak bisa saya lupakan pada short trip ini. Saat perjalanan pulang, memasuki kota Surabaya jalan begitu padat, dengan pengawalan polisi Patwal PJR Polda Jatim, kami membelah kemacetan. 

Entah mengapa tiba-tiba mobil di depan kami mengerem mendadak. Dalam kecepatan tinggi, rekan saya Asep yang mengemudi sontak kaget dan menginjak pedal rem dalam-dalam.

Di situ saya merasakan Collision Mitigation Braking System (CMBS) bekerja sempurna. Kami terhindar dari kecelakaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: