Geliat Bangun Kota Reog: Ubah Desain Monumen Peradaban (2)

Geliat Bangun Kota Reog: Ubah Desain Monumen Peradaban (2)

Taman Ragam Selaras karya arsitek Ar. Bramana Ajasmara Putra. Dengan tim Made Aryatirta Predana, Kadek Yuda Pramana, Putu Dharma Putra, Freddy yang menang sayembara desain Monumen Peradaban Reog Ponorogo.-Pemkab Ponorogo-


Progres pengerjaan Monumen Peradaban Reog Ponorogo dipotret dari udara.-Boy Slamet/Harian Disway-

 

Proyek seharusnya dimulai November 2022. Namun pekerjaan harus mundur karena persoalan teknis. Salah satunya adalah faktor keamanan dan perubahan desain.

Tahun lalu, Sugiri menerangkan konsep awal monumen peradaban itu. Pemkab bakal melubangi gunung gamping. Bikin gua. Artinya kawasan museum utama ada di dalam gunung. 

Namun hal itu sepertinya tak mungkin dilakukan. Sugiri mengatakan bahwa konsep awal sangat mengkhawatirkan. “Gunung gamping ini bekas blasting. Saya khawatir meski sudah dihitung pakai geolistrik. Sebab, geolistrik itu tidak mendeteksi keretakan,” ujarnya.

Katanya proyek monumental itu harus memperhatikan tiga hal. Yakni seni untuk patungnya, arsitek untuk penataan wilayah dan teknik sipil untuk memastikan keamanannya.

Saat tim teknik sipil tidak merekomendasikan pengerukan gua, maka pemkab harus mengubah konsep. Maka diputuskan untuk membuat bangunan 14 lantai yang menopang patung dadak merak.


Pemenang sayembara patung Reog Ponorogo setinggi 126 meter.-IAI Jatim-

Pembuatan gua memang sangat berisiko. Bertahun-tahun proses penambangan dilakukan dengan dinamit. Dikhawatirkan ada keretakan yang membahayakan patung setinggi 126 meter itu.  

Nah, izin jasa peledakan itu sudah diputus demi terwujudnya monumen tersebut. Sugiri sudah menghitung bahwa hasil tambang kapur tidak seberapa. Hasilnya pun hanya dinikmati segelintir orang. Konsep wisata di gunung itu diharapkan bisa membawa Ponorogo naik kelas.

Saat memotret lokasi proyek, muncul mobil Innova hitam dari kejauhan. Kata salah seorang pekerja, bos mereka datang. Ia adalah dirut PT Widya Satria Ir Dirgahaju Gadjah Perdana. Pegawai proyek memanggilnya Pak Dana. Senyumnya begitu ramah. Gaya bicaranya halus.

Rupanya ia tinggal di Ketintang Surabaya. Rumahnya tak jauh dari founder Harian Disway Dahlan Iskan. “Panase ora (panasnya tidak) umum,” kata Dana saat masuk ke tenda.

Ia mempertanyakan pembangunan tenda itu. Mengapa memilih tenda warna hitam. Udara di dalam tenda jadi lebih panas ketimbang di luar. Namun, tenda itu sudah telanjur berdiri. Mau diapakan lagi. Ia memimpin rapat singkat dengan mandor. Titik dan alur pengeboran sudah ditentukan.

Fondasi itu diperlukan untuk pembangunan gedung penopang Patung Dadak Merak Reog Ponorogo. Gedung itu bakal dipakai untuk hotel dan museum. Batal mengeruk gunung.

Dana bertugas membangun gedung penopang monumen itu. Alias pekerjaan tahap pertama. Kalau dilihat dari maket yang dipajang di teras pendapa, akan ada banyak spot penopang yang harus dibangun. Termasuk kawasan water boom, cafe, sentra oleh-oleh dan ruang publik lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: