Pentingnya Tanggal Limolas Panglong Siji dalam Yadnya Kasada 2023 di Bromo

Pentingnya Tanggal Limolas Panglong Siji dalam Yadnya Kasada 2023 di Bromo

Romo Dukun Pandita Puja Pramana sedang memercikkan air suci pada salah satu warga Tengger di Desa Ngadiwono, Tosari, Pasuruan. -Ranau Alejandro-

HARIAN DISWAY - Tanggal limolas panglong siji, masyarakat Tengger merayakan tahun baru. Purnama bagi warga Tengger, termasuk di Desa Ngadiwono, Pasuruan. Malam sebelum Yadnya Kasada, mereka melakukan berbagai persiapan.

Bulan bulat penuh di langit Ngadiwono. Musim kemarau, justru hawa pada musim itu menusuk tulang. Lebih dingin dari musim hujan. Itu masih di Lereng Bromo. Belum di tempat yang lebih tinggi, atau di puncaknya. 

Tapi bagi masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadiwono, malam itu, 4 Juni 2023, merupakan hari istimewa. Jika pada hari biasa setelah senja mereka sudah terlelap, di desa itu, warga banyak yang keluar rumah. Baik orang tua, remaja maupun anak-anak. 

Di tepi jalan mereka menyalakan arang yang dikumpulkan dalam wadah. Kegiatan yang dilakukan sembari menikmati purnama, menyongsong tahun baru. 

Ya, masyarakat Tengger merayakan tahun baru pada tanggal limolas panglong siji. Tahun ini jatuh pada 5 Juni. Itu merupakan tahun baru dalam penanggalan Jawa. Perayaan yang dilakukan saat tahun baru adalah upacara Yadnya Kasada. Arang-arang itu digunakan sebagai piranti upacara.

Di Desa Ngadiwono, salah satu rumah yang paling ramai dikunjungi adalah kediaman Romo Dukun Pandita Puja Pramana. "Besok pagi itu kami merayakan tahun baru. Berdasarkan penanggalan Jawa yang asli. Kami punya pedoman-pedoman perhitungannya," ungkapnya. 

Selagi menerima Harian Disway, ia melayani permintaan tamu untuk melakukan proses penyucian dengan sarana prasen, atau bokor emas berisi air suci. Romo Puja mencipratkan air dalam tangan tiap umat Hindu Tengger. Sebanyak tiga kali dan air itu diminum. Kemudian di atas kepala. 

Proses terakhir, potongan kuntum bunga di dalam prasen diambil dan disematkan di telinga. Jika Romo Puja sedang ada kesibukan lain, tiap orang dapat melakukannya sendiri, atau minta bantuan orang lain.

Ia menjelaskan bahwa dalam penanggalan Jawa yang kini diwarisi Suku Tengger, tidak ada tanggal 16. "Jadi dari tanggal satu ke tanggal lima belas. Sehari setelah tanggal lima belas bukan tanggal 16. Melainkan tanggal limolas panglong siji," ungkapnya. Artinya, tanggal lima belas berkurang satu.

Arti berkurang bukan angkanya, tapi wujud bulan purnama. "Kami Suku Tengger mengenal tiga bentuk bulan dalam penanggalan. Yakni purwaning purnama atau awal purnama, purnama siddhi atau purnama penuh dan purwakaning purnama atau bulan sudah tidak bisa disebut purnama lagi," katanya.

Dikatakan tanggal limolas panglong siji, karena setelah tanggal itu, bulan tidak lagi berbentuk bulat sempurna. "Seperti kalong, panglong atau berkurang sedikit. Tidak lagi bisa disebut purnama," ungkap pria 35 tahun itu. (Guruh Dimas Nugraha)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: