Kabar Dari Tanah Suci (31): Hati Bergetar Melihat Kubah Hijau

Kabar Dari Tanah Suci (31):  Hati Bergetar Melihat Kubah Hijau

Kubah hijau Masjid Nabawi tampak dari kejauhan. Di bawah kubah itulah Rasulullah dimakamkan. -iStockphoto-Ayman Zaid-

Perjalanan dari Makkah ke Madinah berjarak 438 km. Memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan. Itu bila kecepatan rata-rata 100 km per jam terlihat dari aplikasi Waze. Plus jalan bebas hambatan. Berikut catatan Pamuji Setyawan dari Biro Haji dan Umrah Dewangga cabang Ngawi langsung dari Madinah.

---

SEBELUM sampai di hotel, ada pemeriksaan kesesuaian jemaah haji dengan izin yang diberikan. Setelah lewat pemeriksaan, bus melaju pelan menuju hotel. Lokasi hotel jemaah haji Indonesia di Madinah relatif dekat dengan Masjid Nabawi. Paling jauh mungkin sekitar 500 meter. Bisa ditempuh dengan jalan kaki sehingga tidak diperlukan bus Selawat di Madinah. Bahkan ada yang sangat dekat, hanya selemparan batu alias 10 meter dari pagar masjid Nabawi. Hotelnya pun bintang 5. 

Sesampai di hotel, bus mengantre agak lama karena 10 bus datang hampir berbarengan. Semua menurunkan barang bagasi, tas kabin, dan juga penumpang. 

BACA JUGA:Kabar Dari Tanah Suci (30): Air Mata Meleleh Setelah Tawaf Wada


Payung Madinah yang ikonik. -Pamuji Setyawan-Dewangga-

Setelah jemaah masuk ke lobi hotel, ketua rombongan membagikan kunci kamar. Sekamar ada yang berempat ada yang berlima. Saya kebagian sekamar berlima. Koper bagasi jemaah langsung diantar ke masing-masing lantai. Kalaupun tidak ada di lantai yang sama, berarti ada di lantai lainnya. Jemaah yang belum menemukan kopernya aktif mencari kopernya di lantai lainnya.

Setelah semuanya mendapatkan koper masing-masing, saya dan beberapa jemaah segera ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan salat Magrib dan Isya. Keutamaan salat di Masjid Nabawi 1000 kali lebih afdal dibandingkan dengan salat di masjid lain selain Masjidilharam. Hitungannya matematisnya misalkan satu kali salat wajib di Masjid Nabawi nilainya sama dengan salat 5 waktu di masjid biasa selama 6,5 bulan.


Penulis, Pamuji Setyawan (kiri), bersama jurnalis peliput haji, Zulkarnain (tengah) dan Bambang H Irwanto di Madinah.-Pamuji Setyawan-Dewangga-

Setelah mendapatkan tempat di pelataran yang dilengkapi karpet, shaf salat segera disusun. Saya jadi imam salat. Sekali-sekali jadi imam di Masjid Nabawi. Makmumnya sebagian jemaah haji kloter 44 Ngawi. 

Di dekat kami salat ada makam Rasulullah SAW dan sahabat Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Selalu ada rasa bergetar di hati ketika melihat kubah warna hijau yang dari kejauhan sudah terlihat. Seakan tak bisa lepas mata ini memandang kubah hijau. Di mana di bawah kubah hijau tersebut Rasulullah SAW, manusia paling agung di muka bumi ini, dimakamkan. Kami ucapkan salam: "Salam sejahtera  atasmu wahai Rasulullah, Salam sejahtera atasmu wahai Abu Bakar, Salam sejahtera atasmu wahai Umar.”

BACA JUGA:Kabar Dari Tanah Suci (29): Jemaah Haji Berburu Jasa Kargo yang Cepat dan Murah

Kerinduan selalu muncul untuk selalu berkunjung ke Masjid Nabawi sebagai salah satu masjid yang dianjurkan untuk dikunjungi selain Masjidilharam dan Masjid Al-Aqsa (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: