PKI, Indonesia, dan Cile

PKI, Indonesia, dan Cile

Ilustrasi PKI.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kejatuhan dua presiden itu disebut-sebut sama penyebabnya, yaitu operasi intelijen internasional oleh Amerika Serikat melalui CIA. 

Kejatuhan dua pemimpin tersebut terjadi dengan pola yang sama yang kemudian populer disebut sebagai Jakarta Method, ’Metode Jakarta’.

Indonesia dan Cile bernasib sama. Upaya kelompok kiri mengendalikan pemerintahan diakhiri oleh kudeta militer yang kemudian memasang kediktatoran bertahan lama di bawah Pinochet dan Soeharto.

Diamond mengulas konflik berdarah September 1965. Pada saat itu, kelompok komunis Indonesia melihat adanya masalah pada pemerintah yang membutuhkan reformasi segera. 

Di pihak lain, tentara Indonesia melihat adanya persoalan pada paham komunis dan reformasi yang diusulkannya.

Pihak komunis lantas meluncurkan kudeta dengan dalih takut oleh tekanan dari Dewan Jenderal yang antikomunis. Tindakan tersebut direspons dengan sikap tegas dari sisi militer Indonesia terhadap kelompok komunis. 

Terjadilah perburuan dan pembunuhan terhadap anggota dan simpatisan PKI.

Krisis di Indonesia itu mirip dengan Cile. Presiden Salvador Allende, yang dipilih dalam sistem demokrasi, digulingkan kudeta militer Jenderal Augusto Pinochet pada 1973. 

Keserupaan pola kasus Indonesia di Cile terletak pada hasil akhirnya, yakni pihak militer membasmi pihak oposisi.

Dalam buku Upheaval, Diamond menunjukkan bahwa cara sebuah bangsa mengatasi krisis membawa hasil yang kurang lebih sama. 

Finlandia dan Jepang menghadapi tantangan dari luar, kemudian menyelesaikannya dengan melakukan rekonsiliasi. 

Jerman dan Amerika juga pernah menghadapi krisis dalam negeri dan menyelesaikannya dengan rekonsiliasi.

Indonesia dan Cile menyelesaikan konflik internal dengan membasmi lawan politiknya. 

Itulah yang oleh Diamond dianggap sebagai salah satu penyebab Indonesia dan Cile tidak pernah benar-benar move on dari krisis di masa lampau.

Meski demikian, Diamond memberikan apresiasi kepada Indonesia. Di tengah keterpisahan pulau-pulau, luas wilayah ribuan mil, ratusan bahasa asli, dan eksistensi agama-agama, Indonesia menemukan kebersamaan dalam filosofi ”Bhinneka Tunggal Ika”. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: