Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (10): Pesa', Gombor

Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (10): Pesa', Gombor

Mulat Nur Setyanto, owner Batik Peri Kecil, Burneh, Bangkalan, Madura menjelaskan berbagai hal tentang tradisi Madura. -Julian Romadhon-HARIAN DISWAY

HARIAN DISWAY - Konsep pola pemukiman taneyan lanjhang menunjukkan bahwa posisi perempuan begitu penting. Mereka telah diproteksi sejak dini bahkan mendapat perlindungan dan pengawasan penuh dari suami. Itu dapat dilihat dari busana yang dikenakan serta senjata yang disembunyikan.

Hujan deras telah usai. Tetumbuhan yang tumbuh di halaman Rumah Batik Peri Kecil, Burneh, Bangkalan, Madura, menampakkan kesegarannya. Air sisa hujan menetes, berjalan perlahan dari serat-serat daun, kemudian meluncur ke bawah. Setetes demi setetes.

BACA JUGA: Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (8): Istri Landasan Kematian

Di dalam rumah yang hangat itu, Harian Disway bersama beberapa narasumber membahas segala hal tentang Madura. Setiap tradisi atau budaya, memiliki beragam konteks yang saling berkaitan.

Seperti daun-daun yang memiliki serat-serat. Ada bagian yang terlihat halus, ada juga yang kasar. Tapi semua itu terangkai. Mewujud selembar daun yang elok. Carok sekali pun, yang identik dengan kekerasan, memiliki "etika" jantan. Juga tentang cara masyarakat Madura membela harga diri, kehormatan, dan bagaimana mereka memposisikan seorang istri.

"Saya lahir di Madura. Bapak saya Jawa, ibu saya Madura. Lalu saya mendapat suami orang Jawa," ujar Lestari Puji Rahayu (Yayuk), owner Rumah Batik Peri Kecil, sembari melirik suaminya, Mulat Nur Setyanto. Ia merupakan laki-laki asli Batang, Jawa Tengah. Namun, kecintaan keduanya terhadap budaya dan tradisi Madura begitu besar.

"Dalam tradisi Madura, setiap perempuan diharuskan untuk menikah. Jika saat kecil hingga remaja mereka dilindungi keluarga, pasca menikah, posisi pelindung itu berganti pada sosok suaminya," ujar Mulat.

Sebagai pemimpin keluarga, seorang istri harus patuh pada suaminya. Mereka harus berbicara dengan cara abhasa, atau berbahasa halus pada suaminya itu. Sedangkan suami menggunakan bahasa mapas atau kasar saat berbicara dengan istrinya.

"Bahasa Madura pun memiliki tingkatan-tingkatan. Seperti bahasa Jawa. Ketika sedang berbicara pada orang yang lebih tua, atau pada suami, pasti menggunakan bahasa halus. Berbeda ketika saat berbicara dengan yang lebih muda, atau sebaya," terang Yayuk.

Tingkatan bahasa itu tidak hanya merujuk pada perbedaan secara linguistik. Namun, memiliki relasi yang sangat erat dengan status sosial serta hierarki sosial. Maka bagi orang Madura, salah menerapkan bentuk tingkatan bahasa ketika berkomunikasi adalah sebuah perilaku janggal, atau tidak memiliki sopan santun.

"Jadi itu bukan saja kesalahan linguistik, tapi salah secara kultural," ujar Hidrochin Sabarudin (Abah Doink), budayawan Madura yang turut hadir dalam perbincangan itu. Maka, penerapan bahasa yang tidak proporsional sangat dikecam oleh masyarakat Madura. 

Kesalahan berbahasa dapat mengundang perasaan marah pada diri lawan bicara. Perilaku itu akan dimaknai sebagai penghinaan atau pelecehan harga diri. Yang bila telah kelewat batas, bisa menyebabkan konflik, bahkan carok. 

Dalam rumah tangga, istri yang abhasa pada suaminya adalah bentuk penghormatan. Sebab, suami menempati posisi superordinasi yang tercermin dalam peran yang sangat dominan. Peran yang hampir mencakup segala segi kehidupan dalam rumah tangga tersebut. 

"Maka, upaya melindungi istri dalam masyarakat Madura, sangat totalitas. Orang yang tak memahami kultur di baliknya, menganggapnya berlebihan," ungkap budayawan 63 tahun itu. Peran suami sebagai pelindung istri tampak dalam busana adat mereka. Yakni pesa' dan gombor. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: