Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (9): Taneyan Lanjhang

Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (9): Taneyan Lanjhang

Potret perempuan Madura yang sedang membatik. Dalam budaya Madura, perempuan sebagai istri adalah tanda kehormatan suami. Maka, mereka wajib dilindungi. --

HARIAN DISWAY - Dalam kultur masyarakat Madura, perempuan sangat diproteksi. Itu terlihat, salah satunya dari pola pemukiman tradisional. Struktur lingkungan pemukiman yang memiliki halaman panjang di tengah, atau taneyan lanjhang. Ada peraturannya juga. Jika dilanggar, bisa berakibat carok.

Hujan telah sepenuhnya reda. Tapi suara titik-titik air masih konstan. Terus-menerus turun dari atap. Membasahi lantai batu-batu alam di halaman Rumah Batik Peri Kecil. Rumah dengan arsitektur klasik campuran Madura-Jawa, serta sebagai tempat koleksi batik-batik khas Pulau Garam.

BACA JUGA: Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (8): Istri Landasan Kematian

Secara geografis, Madura dipenuhi bukit berkapur. Tak sesubur di Jawa. Banyak pendapat bahwa jika kelompok masyarakat tinggal di lingkungan alam keras, maka mereka cenderung survive. Seperti itu pula gambaran masyarakat Madura. Keras, tangguh, tegas dan pantang menyerah.

Mereka dapat hidup di lingkungan mana pun, di mana pun berada. Seperti para perantauan Madura yang gigih. Tapi tak seperti orang-orang Eropa yang hidup dalam iklim ekstrem, yang menghasilkan kecenderungan sosial individualistik. Orang Madura memegang teguh prinsip. Punya etika, semangat kebersamaan dan andhap asor. Mereka sangat melindungi kaum perempuan.

Di Rumah Batik Peri Kecil itu hadir beberapa orang. Termasuk budayawan Madura Hidrochin Sabarudin (Abah Doink), pasangan suami-istri Lestari Puji Rahayu dan Mulat Nur Setyanto, serta seorang pemuda pegiat sejarah. Namanya Agung Wicaksono. 

Agung merupakan anggota dari komunitas Gak Cuma Jalan. Komunitas yang menyebut kegiatan mereka sebagai upaya "memperlambat hidup untuk melihat sekitar". Mulai dari cagar budaya di Madura, sosial-masyarakat, dan lain-lain.

Agung menyebut bahwa dalam budaya Madura, perempuan sangat diproteksi. "Bisa dilihat dari pola pemukiman. Di situ kaum perempuan akan selalu merasa aman," ujarnya. Orang Madura mengenal taneyan lanjhang. Jika diterjemahkan, artinya halaman panjang. 

Pola itu masih banyak ditemukan, meski bentuk bangunannya tak seperti dulu. Tapi jika dilihat strukturnya, meliputi penempatan ruang-ruang, posisi asli taneyan lanjhang masih terjaga. "Masih banyak dijumpai rumah-rumah modern yang pada hakikatnya masih menjaga konsep taneyan lanjhang," ungkap pria 28 tahun itu.

"Jadi dalam tradisi Madura, setiap orang tua akan membangun rumah untuk setiap anak perempuan mereka," terang Abah Doink. Atau taneyan lanjhang dibangun bagi tiap keluarga yang memiliki banyak anak perempuan. 

Taneyan lanjhang pun dapat dilihat sebagai sebuah sistem perkawinan. Yakni cerminan kombinasi antara uxorilocal dan uxori-matrilocal. Artinya, setiap anak perempuan yang telah menikah akan tetap tinggal di kompleks pekarangan orang tuanya. Sedangkan anak laki-laki, setelah menikah akan keluar dan tinggal di pekarangan mertuanya.

Bangunan-bangunan rumah yang ada di taneyan lanjhang didirikan berderet dari barat ke timur. Maka, posisi pintu masuk masing-masing rumah menghadap ke selatan. Di tengahnya terdapat halaman yang panjang. 

Sedangkan di seberangnya, terdapat deretan bangunan yang sejajar dengan posisi rumah. Itu merupakan bangunan untuk dapur atau lumbung, tempat menyimpan bahan pangan atau hasil pertanian. Di belakang dapur, terdapat kandang sapi atau hewan ternak lainnya.

Rumah-rumah itu dibangun sesuai urutan kelahiran. Yang paling barat, persis di sebelah sumur, ditempati oleh anak perempuan paling tua, seterusnya hingga deretan paling akhir ditempati oleh anak bungsu. Salah satu rumah akan diperlakukan sebagai rumah induk. Yakni ditempati oleh orang tua anak-anak tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: