Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (9): Taneyan Lanjhang

Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (9): Taneyan Lanjhang

Potret perempuan Madura yang sedang membatik. Dalam budaya Madura, perempuan sebagai istri adalah tanda kehormatan suami. Maka, mereka wajib dilindungi. --

Jika sebuah taneyan lanjhang terdiri dari delapan rumah, maka terdapat tujuh anak perempuan dari keluarga itu. Begitu seterusnya. "Biasanya paling banyak delapan rumah. Tapi ada juga yang lebih. Sesuai jumlah anak-anaknya," ujar Abah Doink.

Dari konsep pemukiman tersebut, maka secara kultural anak perempuan memperoleh perhatian lebih dibandingkan anak laki-laki. Begitu diproteksi. Orang tua Madura berpendapat bahwa anak perempuan sebaiknya tetap tinggal dalam lingkungan mereka. Meski telah menikah.

Kualitas rumah untuk anak-anak perempuan itu dibangun sesuai kondisi ekonomi. Jika kurang mampu, biasanya orang tua menyerahkan rumah induk mereka untuk ditempati oleh salah seorang anak perempuan. Kedua orang tua itu akan tinggal di kamar belakang dekat dapur, atau memfungsikan sebagian dapur untuk kamar tidur.
Konsep taneyan lanjhang yakni pola pemukiman tradisional Madura. Setiap keluarga akan membuatkan rumah bagi anak perempuan, untuk ditempati dengan suaminya. Sementera anak laki-laki, menetap di pekarangan mertuanya setelah menikah. --

Di ujung halaman panjang pasti terdapat musala atau surau. Orang Madura menyebutnya langghar. Selain sebagai tempat beribadah, juga digunakan sebagai sarana menerima tamu. Khususnya tamu laki-laki. Posisinya tentu berada di barat, arah hadap kiblat.

"Semua tamu laki-laki ditempatkan di musala itu. Demi mencegah terjadinya perbuatan negatif, atau menghindari pertemuan antara tamu laki-laki dan anggota keluarga perempuan," ujar Agung. 

Tamu laki-laki tidak disambut di ruang tamu masing-masing rumah. Sebab, hal itu disebut parseko, atau kurang etis dan berpotensi membuat kesalahpahaman. Jika tamu laki-laki datang bersama istrinya, maka hanya istrinya yang boleh masuk ke ruang tamu. Karena di situ adalah tempat bertemunya antar-perempuan. 

Jika semua anggota keluarga laki-laki tidak ada, maka tamu laki-laki yang datang hanya boleh disambut oleh perempuan dari balik ruangan, tanpa memperlihatkan diri. Kemudian tamu itu akan ditanya maksud dan tujuannya. Setelah jelas, maka tamu harus segera pulang tanpa harus menunggu kedatangan tuan rumah laki-laki. 

Dapat disimpulkan, kultur Madura melakukan antisipasi bagi para perempuan dari segala bentuk perbuatan tercela. Melanggar etika taneyan lanjhang sama saja penghinaan terhadap seluruh keluarga di dalamnya. Itu yang kerap berakhir dengan carok. (Guruh Dimas Nugraha)

IBACA SELANJUTNYA Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (10): Pesa', Gombor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: