Khasanah Ramadan (8): Ngabuburit dan Pendidikan Anak

Khasanah Ramadan (8): Ngabuburit dan Pendidikan Anak

PARENTING: Para orang tua bisa memanfaatkan momen puasa Ramadan untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang kewajiban apa saja yang harus dilakukan dalam bulan Ramadan. --

Kita dapat belajar dari apa pun. Termasuk dari selembar daun kering yang jatuh dan memenuhi halaman rumah. Peristiwa ini mengabarkan adanya gravitasi bumi sampai pada kelembutan angin serta keberadaan pepohonan. 

Semua itu bersangkut dalam ”tata kelola hidup” karya cipta Tuhan. Ramadan  memberikan kesempatan selaksan ”mendesain ulang kurikulum kehayatan” agar manusia menemukan kontekstualitas dirinya.

Ramainya tempat-tempat ibadah di desa-desa maupun di gang-gang sempit perkotaan sungguh memendarkan terawang tentang arti ”sesuatu yang tidak sia-sia”.

Setiap hal adalah membuka ruang madrasah untuk bermesraan dengan Tuhannya, menjatuhcintakan hati kepada Rabbnya sepanjang waktu.


MENUNGGU MOMEN: Menjelang waktu berbuka kerap dimanfaatkan anak-anak -baik yang berpuasa atau tidak- untuk menikmati saat-saat menyenangkan dengan beraktivitas bersama teman hingga waktu berbuka tiba. --

Betapa indahnya Ramadan. Saya menyaksikan dalam setiap keliling di wulan poso,  anak-anak yang meramaikan ngabuburit sampai tarawih. Ingatan dan imaji mengajak melangkah mundur di zaman old sewaktu kebanyakan kita mengalaminya. 

Anak-anak ini meramaikan masjid, langgar, dan suray dalam makna yang sebenarnya. Mereka membuat ramai dengan tingkah dan celotehnya. Berlari-lari sewaktu orang tua sedang khusuk menjalin audiens dengan Rabbnya.

Anak-anak ini menggelorakan tawa serta cekikikannya tanda betapa bergembiranya merEka menemukan teman, sahabat, dan komunitas yang meriah.

Masjid juga tempat ngabuburit idaman. Ramadan terbukti mengakrabkan anak-anak sekampung dengan segala perjanjian yang mereka buat di sela-sela aktivitas ibadah.

Ngabuburit di areal sekitar ”Masjid Mart” agar ekonomi umat bergerak dengan jalinan ekonomi yang bergerak dari masjid untuk kesejahteraan jamaah. 

Anak-anak ini menemukan ”lapangan pertandingannya” dan yang menggembirakan  adalah bahwa di zaman now ini, tidak ada orang tua yang merasa terusik atas polah anak-anak ini di tengah suasana penuh hikmat jelang Maghriban. 

Ini menandakan betapa orang tua menyadari: biarlah masjid ini menjadi arena kegembiraan anak-anak tanpa perlu dipagari dengan segala regulasi yang menjadikannya tidak nyaman di masjid. Bersama anak-anak, haqqul yakin, kita dapat belajar dan dari sinilah ada madrasah untuk mendidik bebersamaan. 

Terhadap hal ini saya teringat kembali karya Abdullah Nashih ‘Ulwan, Tarbiyatul ‘Aulad fil Islam yang memuat hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmizi: ”bukanlah dari golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan menghormati yang tua”. (*)

Oleh: Suparto Wijoyo, Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Unair dan Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup-SDA MUI Jatim)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: