Dilema Pemain Diaspora, Sudah Bisakah Indonesia Mencetak Atlet Level Dunia?

Pemain Timnas Indonesia menjelang laga melawan Australia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 pada 20 Maret 2025-PSSI-
Samurai Blue (julukan timnas Jepang) memasang target jangka panjang yakni juara Piala Dunia 2050. Bukan waktu yang singkat. Tapi mereka punya cetak biru (blueprint) mau dibawa kemana sepak bola negara tersebut. Mereka punya formulasi menuju target itu. Progresnya jelas dan terukur. Bukan proses dikejar periode jabatan demi meninggalkan legacy untuk tujuan pribadi.
BACA JUGA:Prediksi Indonesia vs Bahrain di Kualifikasi Piala Dunia: Ujian Kedua Patrick Kluivert!
Kasus pemain keturunan juga ada di timnas Prancis. Memang, sebagian besar dari skuad Prancis memiliki garis keturunan dari Afrika. Kakek, nenek, atau orang tua mereka merupakan imigran. Tapi pemain tersebut sudah lahir, besar, dan dididik oleh Prancis. Mereka orang Prancis. Prancis-lah yang berkontribusi atas perkembangan dan kemampuan mereka sebagai atlet. Puncaknya saat Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018, juara yang kedua kali setelah edisi 1998.
Pada akhirnya, menjadi representasi dengan masuk tim nasional, bukan hanya soal status mereka sebagai warga negara. Tetapi, sebuah tim nasional merupakan cerminan bagaimana negara tersebut mencetak, mendidik, dan menghasilkan manusia-manusia yang bisa bersaing di level tertinggi. Mereka adalah wajah dari negara tersebut dalam persaingan level dunia.
Kita bisa memiliki timnas yang bersaing dari level tinggi. Bisa. Buktinya bisa lolos ronde ketiga Piala Kualifikasi Piala Dunia 2026. Itu hebat. Bisa sampai ke ke fase gugur Piala Asia 2023 itu juga prestasi yang patut kita banggakan. Bahkan emas SEA Games pun harus kita apresiasi.
Tapi pertanyaan yang kita renungkan lebih lanjut, apakah Indonesia juga bisa mencetak atlet-atlet yang andal yang bisa bermain di persaingan elite?
Apakah kita punya fundamental yang kuat untuk bisa bertahan di level tersebut secara konsisten? Mau sampai kapan mengambil "produk jadi" dari negara lain?
Apakah kita malu mengakui bahwa kita belum bisa menghasilkan atlet elit level dunia secara mandiri?
Jika kita bisa dan konsisten mencetak atlet elite, prestasi terbaik pun bisa kita dapatkan. Kuncinya percaya proses. Dengan catatan prosesnya yang jelas dan terukur. Harapan kita semua sama. Bisa melihat Indonesia juara dunia. Entah dari cabor apapun.(*)
*Penulis adalah jurnalis di Mainbasket.com (Disway National Network)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: