Idulfitri 2025, Renungan Mudik Eksistensial

Idulfitri 2025, Renungan Mudik Eksistensial

Ilustrasi masyarakat Tiongkok salat Idulfitri. --iStockphoto

Schopenhauer pulang dengan pesimisme yang dilipat rapi di dalam koper. Di ruang keluarga, ia duduk tanpa banyak bicara. Ketika ditanya, ”kenapa pendiam sekali?” ia hanya menjawab, ”Kehidupan adalah penderitaan yang diselimuti ilusi. Tapi, baiklah, aku coba makan ketupat dengan damai.” 

Bahkan, ia tahu, dalam kegetiran menjalani tugas kehidupan, kadang keluarga adalah penghibur yang tidak masuk akal, tapi tetap nyata. 

Franz Kafka memeluk ibunya sambil merasa seperti tokoh dalam cerpenya sendiri. Di meja makan, ia merasa tubuhnya transparan. Ia menjawab salam. Namun, dalam hatinya, ia mencatat absurditas obrolan. Ketika pamannya bertanya, ”kapan menikah,” ia membatin, ”Apakah aku harus menjelaskan tentang transformasi menjadi kecoak dulu agar mereka paham agar mereka paham?”

Tapi, Kafka tahu, Lebaran bukan ruang untuk menjelaskan, melainkan menerima bahwa ketidakpahaman pun adalah bagian bentuk dari cinta, yang butuh alasan untuk ditolak. 

Osamu Dazai menyusuri gang sempit menuju rumahnya sambil membawa sekeranjang ketidakseimbangan. Wajahnya tersenyum, tapi pikiranya gelap. Ia ditanya, ”Kapan bisa bahagia?” dan ia ingin menjawab, ”Barangkali saat aku berhenti mencoba menjelaskan siapa aku.”

Tapi, ia memilih diam, karena bahkan dalam diam, Dazai tahu: pulang adalah satu-satunya cara agar kesepian tidak menjadi satu-satunya rumah. 

Kahlil Gibran mencium tangan ibunya seperti mencium nadi bumi. Ia tak banyak berkata-kata, hanya memeluk dan membisikkan puisi dalam hati: ”Cinta bukanlah memiliki, tapi hadir meski tak dimengerti”. Ketika semua sibuk berfoto, ia menulis di ujung sajadah, ”Kita tidak pernah sungguh-sungguh pulang jika tidak membawa pulang kedamaian.”

Hidup adalah rakaat panjang pada hamparan sajadah semesta, di tengah kegetiran dalam menjalankan tugas kehidupan sebagai makhluk sosial. Pulang adalah jalan menemukan diri, kemurnian, kejernihan, berhenti sejenak dari absurditas, juga kontruksi sosial yang membelenggu. (*) 

*) Bambang Prakoso adalah dosen ilmu perpustakaan, FISIP, UWKS; dan ketua GPMB Jatim

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: