Idulfitri 2025, Renungan Mudik Eksistensial

Idulfitri 2025, Renungan Mudik Eksistensial

Ilustrasi masyarakat Tiongkok salat Idulfitri. --iStockphoto

BACA JUGA:Tok! Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1446 H Jatuh pada 31 Maret 2025

Semua adalah konstruksi sosial, kecuali mengandung, melahirkan, menyusui, haid itu hanya bisa dilakukan oleh perempuan. Namun, perkembangan TI sampai AI begitu dinamis hiangga absurditas hampir mencapai puncak, kita makin mendekati zaman utopia, saat eksistensi manusia makin absurd.

Kierkegaard duduk sendirian di pojok musala. Ia baru saja bersalaman dengan banyak ratusan tangan, tapi tetap merasa sepi. ”Kesunyian,” bisiknya, ”adalah doa yang tak pernah membutuhkan kata”.

Dalam kesendirian itu, ia mengingat cinta yang tak sempat ia perjuangkan dan merasa bahwa pulang bukanlah tentang tempat, melainkan tentang keberanian menghadapi bayangan sendiri. 

BACA JUGA:Mengulik Sejarah Tradisi Malam Takbiran Menjelang Idulfitri

BACA JUGA:6 Kiat Melindungi Keamanan Rumah selama Bepergian saat Idulfitri

Camus naik bus terakhir, pulang ke kampungnya yang sunyi senyap. Di halte, ia menulis catatan kecil: ”Di tengah hiruk pikuk silaturahmi, kita justru sadar bahwa hidup tidak harus selalu mengerti, cukup dijalani.

Ketika pinta rumah dibuka dan aroma opor menusuk indra penciuman, Camus merasa: absurditas pun bisa beristirahat sejenak oleh aktivitas kontruksi sosial dari dapur. 

Banyak di atara kita yang senang ngobrol daripada berswafoto jika bertemu sanak saudara di kampung. Plato juga tidak suka berswafoto, ia sibuk berdialog. Ketika anak-anak sepupunya bertanya, ”Kenapa Lebaran selalu harus pulang?” Ia menjawab, ”Karena jiwa kita rindu pada bentuk yang sejati, yakni cinta yang tanpa syarat dari rumah, dari kampung.” 

BACA JUGA:10 Tradisi Idulfitri Khas di Uni Emirat Arab, Nomor 6 Ditunggu Anak-Anak!

BACA JUGA:6 Fakta Seputar Idulfitri yang Perlu Diketahui

Anak-anak bingung, lalu mengajak Plato main petasan. Plato melakukan dengan tanpa syarat karena itu yang ia rindukan, menemukan makna dan cita kampung.

Simone de Beauvoir duduk berdampingan dengan neneknya. Ia tahu, menjadi perempuan yang mandiri di kota bukan hal  mudah. Namun, di rumah, ia kembali menjadi cucu yang menyuapi, mencium tangan, dan mendengarkan kisah-kisah. 

”Kebebasan,” pikiranya, ”bukan berarti tak pulang. Tetapi, memilih untuk pulang tanpa kehilangan diri sendiri.” 

Dostoyevsky membaca doa dalam hening, melangitkan hamparan, membumikan tindakan. Ia tahu banyak ia kecewakan, banyak luka yang belum sembuh, tapi ia datang. Sebab, baginya, pulang adalah pengakuan, dan Lebaran adalah momentum pengampunan meski tak selalu diucapkan, tapi selalu diharapkan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: