Meriahnya Kirab Budaya Bantarangin 2025: Warga Antusias Berebut Bendera dan Jajanan

Peserta Kirab Budaya Bantarangin Ponorogo, Sabtu 26 Juli 2025-Edi Susilo Disway-
Desak-desakan tak terhindarkan. Beberapa warga terinjak dan tersikut. Di antara kerumunan, seorang ibu bernama Dewi berusaha menenangkan putrinya yang menangis karena kakinya terinjak.
"Sudah, sudah tunggu dulu. Nggak usah maju-maju," kata Dewi, berusaha menahan anaknya.
Tapi, namanya rejeki, tangisan sang anak ternyata terdengar warga lain yang iba lalu memberikan bendera miliknya kepada putrinya. "Terima kasih, Pak," ujar Dewi.
BACA JUGA:Ratu Sabu dari Ponorogo
Tak hanya bendera, setiap peserta kirab juga membawa "oleh-oleh" untuk dibagikan ke warga. Mulai dari aneka jajanan, buah-buahan, hingga selebaran promosi sekolah dan produk usaha.
Ada yang membagikan dengan tangan, ada pula yang melempar hadiah ke arah penonton. Sedikit anarkis, tapi justru itulah yang membuat suasana semakin seru dan meriah.
"Lumayan dapat segini," kata Andi yang pulang membawa sekantong penuh aneka jajanan. Ia bersama putranya semangat menyambar setiap penumpang kereta kuda yang menyebar hadiah.
BACA JUGA:Perjalanan Panjang Reog Ponorogo, Sempat Diklaim Malaysia hingga Diakui UNESCO
Sekretaris Kecamatan Kauman Gustiarsani mengatakan, Kirab Budaya Bantarangin ini memang merupakan inisiatif desa-desa yang berada di kulon kali atau barat sungai.
Konon, wilayah itu dulu merupakan batas Kerajaan Bantarangin. Kerajaan lama yang berada di wilayah Ponorogo.
Kirab budaya itu memang untuk mengenang kejayaan wilayah itu. "Tahun ini ada 69 desa yang ikut meramaikan kirab," kata Sani.
BACA JUGA:Khofifah Perjuangkan Reog Ponorogo Agar Diakui UNESCO Sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Tak ada syarat khusus bagi mereka yang ikut menjadi peserta kirab. Mereka bisa mendaftar perorangan, kelompok, instansi, sekolah, hingga tempat usaha. "Mereka juga boleh promosi," paparnya.
Total sebanyak 140 peserta kirab yang menempuh rute sejauh 7,8 kilometer. Rombongan terdiri dari 50 kereta kuda, 50 mobil hias, 20 peserta lintas sejarah, dan 20 kelompok umum yang membawa ciri khas masing-masing. Termasuk peserta dengan sound system yang terdengar amat nyaring.
"Tahun ini untuk sound horeg agak sepi. Karena ada pembatasan volume," ujar Sani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: