BRICS vs G-7: Membaca Ulang Dinamika Hegemoni Ekonomi Global

BRICS vs G-7: Membaca Ulang Dinamika Hegemoni Ekonomi Global

ILUSTRASI BRICS vs G-7: Membaca Ulang Dinamika Hegemoni Ekonomi Global.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

LAPORAN yang diterbitkan International Monetary Fund (IMF) yang tercantum dalam World Economic Outlook edisi Oktober 2024 yang berjudul Policy Pivot, Rising Threats (Pergeseran Kebijakan, Meningkatnya Ancaman) telah memprediksi bahwa dunia akan makin bergantung kepada kelompok ekonomi berkembang BRICS dalam mendorong ekspansi pertumbuhan ekonominya ketimbang berorientasi pada negara-negara Barat yang tergabung dalam G-7. 

Terdapat sejumlah perbedaan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari laporan terakhir IMF pada enam bulan lalu. Salah satu yang paling kentara adalah terdapat peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dalam lima tahun mendatang dari negara-negara BRICS

Berdasar perhitungan itu pula, kontribusi ekonomi dari negara-negara maju di kelompok Group of Seven (G-7), seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang, diprediksi IMF justru akan menurun.

BACA JUGA:Solidaritas Global South dan BRICS, Gerakan Dehegemonisasi Ekonomi Barat?

BACA JUGA:Trump 2.0 dan Hubungan Indonesia-AS Pasca Keanggotaan BRICS

BRICS merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang terdiri atas lima anggota negara utama: Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa (Afrika Selatan). Sementara itu, ada lima negara tambahan lain yang resmi bergabung, yakni Arab Saudi, Etiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Mesir. 

KTT Ke-16 BRICS yang berlangsung selama tiga hari yang dihelat di Kota Kazan, Rusia, ditutup dengan pidato Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyebut BRICS sebagai ”blok negara-negara berkembang yang menjadi penyeimbang” Barat. 

Pasca pelantikan sebagai presiden yang baru, Prabowo Subianto telah mengutus Menteri Luar Negeri Sugiono untuk menghadiri KTT BRICS di Kazan pada 22–24 Oktober 2024. 

BACA JUGA:Indonesia Gabung BRICS: Poros (Ekonomi) Jakarta-Beijing-Moskow Jilid 2?

BACA JUGA:Tantangan Indonesia setelah Gabung BRICS

Di tengah situasi dunia yang cenderung terfragmentasi dalam rivalitas geopolitik yang memanas (konflik Rusia-Ukraina belum menampakkan tensi mereda), sementara di belahan Asia Timur konflik China-Taiwan yang kian meningkat, ditambah konflik di Timur Tengah yang sulit diprediksi kapan berakhir telah menimbulkan dampak rambatan terhadap perekonomian negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. 

Dengan begitu, menguatnya peran kaukus ekonomi strategis yang diprakarsai Rusia dan China sedikit banyak telah mengubah peta kekuatan hegemoni geopolitik yang beberapa dasawarsa masih didominasi aliansi Barat yang dimotori Amerika Serikat. 

 

MENGGUGAT HEGEMONI STATUS QUO

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: