Fungsi dan Makna Jumlah Dupa untuk Sembahyang Menurut Konghucu

Fungsi dan Makna Jumlah Dupa untuk Sembahyang Menurut Konghucu

Ws. Liem Tiong Yang menggunakan tiga dupa saat memimpin peribadatan umat Konghucu.-Guruh D.N.-HARIAN DISWAY

Delapan dupa dipakai umat Konghucu untuk upacara persembahyangan orang tua yang telah meninggal dunia. 

Anak laki-laki tertua yang biasanya memberikan penghormatan terakhir untuk orang tuanya. Ia akan berdoa sembari memegang delapan dupa. “Tapi jika tidak memiliki putra, maka sembahyang diwakili anak perempuan tertua,” ungkapnya.

Persembahyangan kematian dengan delapan dupa bermakna puja bakti seorang anak terhadap orang tua. Juga sebagai permohonan maaf. 


Ilustrasi dua orang sedang bersembahyang menggunakan dupa.-freepik-

BACA JUGA:Fenomena Lucky Face, Ketika Feng Shui Wajah dan Tren Estetika Modern Bertemu

BACA JUGA:Feng Shui Penempatan dan Penataan Kamar Mandi dan Dampaknya terhadap Kesehatan Penghuni Rumah

Peribadatan delapan dupa telah diawali sejak upacara pertama, penutupan peti, upacara malam kembang, hingga malam terakhir sampai 3 tahun masa berkabung.

Sembilan Dupa

Sedangkan dupa berjumlah sembilan adalah jumlah tertinggi dalam peribadatan Konghucu. Mereka tidak pernah menggunakan dupa yang lebih banyak dari jumlah sembilan. 

“Karena sembilan adalah angka tertinggi. Melambangkan kesempurnaan Tuhan. Juga penghormatan tertinggi atas kesempurnaan yang dimiliki-Nya,” ujarnya.

Di Atas Sembilan Dupa

Dalam kepercayaan lain yang bersinggungan dengan tradisi Tiongkok, ada yang menggunakan dupa berjumlah lebih dari sembilan. Seperti dua belas dupa. 

BACA JUGA:Tip Feng Shui, Simpan 3 Benda Berenergi Kuat di Saku untuk Menarik Rezeki

BACA JUGA:Panduan Feng Shui untuk Menata Posisi Pintu Utama agar Membawa Keberuntungan

Biasanya, jumlah itu digunakan untuk persembahyangan Imlek. Dengan harapan mereka terlindungi dan beroleh berkah, rezeki, dan keselamatan dalam mengarungi 12 bulan ke depan. 

Konghucu sebenarnya tak mengenal penggunaan dua belas dupa. Namun, mereka tak mempermasalahkan apabila ada seseorang yang mengadopsi tradisi dua belas dupa.

“Tidak masalah kalau ada yang mau memakainya untuk berdoa. Khususnya saat imlek,” ujarnya. Menurutnya, Konghucu adalah agama yang fleksibel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: