Fungsi dan Makna Jumlah Dupa untuk Sembahyang Menurut Konghucu

Fungsi dan Makna Jumlah Dupa untuk Sembahyang Menurut Konghucu

Ws. Liem Tiong Yang menggunakan tiga dupa saat memimpin peribadatan umat Konghucu.-Guruh D.N.-HARIAN DISWAY

HARIAN DISWAY - Salah satu bentuknya adalah batang tipis. Tapi ketika dibakar, wanginya dapat memenuhi ruangan. Itulah dupa. Bahan pembuatannya cukup beragam dan semakin bervariasi di masa kini. 

Batangnya terbuat dari bambu. Sedangkan bubuk padatnya adalah campuran dari wangi-wangian aromatik. Seperti kayu gaharu, minyak wangi dan semacamnya.

Kelenteng Konghucu Boen Bio di Surabaya tentu sangat akrab dengan penggunaan dupa. Setiap peribadatan atau sembahyang pribadi, para umat tak pernah meninggalkan dupa.

Ws. Liem Tiong Yang, pemuka agama di kelenteng tersebut, menjabarkan panjang lebar terkait filosofinya dalam perspektif Konghucu. Termasuk tentang makna beragam jumlah dupa. 

BACA JUGA:Begini Kriteria Pemimpin Ideal dalam Pandangan Konghucu

BACA JUGA:Sembahyang King Ho Ping, Umat Konghucu Persembahkan Pir-Apel-Jeruk untuk Menuju Keselamatan

Satu Dupa

Di dalam peribadatan Konghucu secara umum, mereka dapat memakai satu dupa. Maknanya sebagai satu kesatuan.


Penggunaan dupa untuk bersembahyang tidak boleh sembarangan. Ada aturan khusus terkait jumlah beserta maknanya.-freepik-

Simbol interaksi sehati antara manusia dan Tuhan. Dapat pula dimaknai sebagai satu tekad untuk beribadah kepada-Nya.

Pemakaian satu dupa juga dapat dilakukan untuk persembahyangan kepada leluhur. Atau bila mendesak, dapat juga dipakai dalam peribadatan apapun. 

“Misalnya ketika jumlah dupa terbatas, maka tak masalah sembahyang menggunakan satu saja,” tutur Ws. Liem.

BACA JUGA:Saksi Perjuangan Konghucu di Surabaya

BACA JUGA:Umat Konghucu Gelar Cisuak Larung di Pantai Kenjeran, Ritual Tahunan Jelang Imlek

Dua Dupa

Jika umat Konghucu beribadah untuk mendoakan mereka yang telah meninggal, maka mereka memakai dupa berjumlah dua. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: