Tak Sengguh Kemanten Anyar, Refleksi Spiritual Sang Petani Jiwa

Tak Sengguh Kemanten Anyar, Refleksi Spiritual Sang Petani Jiwa

Anang Prasetyo memamerkan karya lukisnya saat menggelar pameran keempat bertema Tak Sengguh Kemanten Anyar di Galeri Merah Putih, Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Minggu, 30 November 2025.-Foto: Andra Ary Kristanto-

Seni rupa selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Di balik sapuan kuas dan guratan warna, seorang perupa selalu berusaha menyampaikan gagasan. Itu pula yang dilakukan Anang Prasetyo ketika menggelar pemeran tunggal keempatnya di Galeri Merah Putih Surabaya.

---

KOMPLEKS Balai Pemuda terlihat ramai, Minggu, 30 November 2025. Kawasan ikonik di jantung Kota Surabaya itu memang selalu riuh setiap akhir pekan. Sejak terintegrasi dengan Alun-Alun Surabaya pada 2020, tempat berkumpul anak muda itu semakin hidup. 

Siang itu, halaman Balai Pemuda sudah dipenuhi pengunjung. Di sekitar Alun-Alun Surabaya, tergelar panggung musik. Pun, deretan tenant-tenant UMKM yang sibuk menawarkan dagangan mereka. 

Masuk ke bagian dalam, suara musik keroncong mengalun merdu, berpadu dengan riuhnya suara anak-anak yang sedang berlatih tari tradisional. Di ruangan kecil berukuran 4,5x6 meter, kompleks Balai Pemuda, terdapat pameran seni rupa. Letaknya hanya sepelemparan batu dengan gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS). 

Ya, itulah Gedung Merah Putih Surabaya. Di gedung itu Anang Prasetyo menggelar pameran keempatnya. Selama enam hari. Sejak 29 November-4 Desember 2025. Pameran itu bertajuk Tak Sengguh Kemanten Anyar.

Pria asal Tulungagung itu menampilkan karya-karya yang mencerminkan perjalanan jiwa dan spiritualnya. Juga menawarkan refleksi mendalam tentang kehidupan dan seni. 

BACA JUGA:Di Balai Pemuda, Mereka Menemukan 'Rumah'

BACA JUGA:Transformasi Balai Pemuda, dari De Simpangsche Societeit hingga Alun-Alun Kota Surabaya


Suasana pameran tunggal keempat Anang Prasetyo bertajuk Tak Sengguh Kemanten Anyar, 29 November-4 Desember 2025.-Anang Prasetyo-

Secara harfiah, kemanten anyar berarti 'pengantin baru', sebuah fase hidup yang penuh harapan dan ketidakpastian. Adapun tak sengguh berarti ’belum sungguh-sungguh’. Di sinilah Anang mengajak pengunjung merenungkan konsep perubahan atau pembaruan yang kadang belum sepenuhnya nyata atau dirasakan.

Karya yang dipamerkan terbagi dalam tiga bagian. Pertama, Kembar Mayang yang melambangkan energi perempuan. Kedua, Anak Peradaban menghadirkan kenangan masa kecil yang bahagia. Yang ketiga Laku Lampah, menggambarkan perjalanan hidup menuju kebenaran dan kedamaian. Itu disebut trilogi perjalanan spiritual manusia.

Sejak pameran pertama hingga kini, tema-tema yang ia pilih mencerminkan perjalanan kontemplatif tersebut: Rupa Wacana (2017), Laku Lampah (2018), Jalan Sunyi (2021) Tak Sengguh Kemanten Anyar (2025).

Dalam proses kreatifnya, ia terinspirasi oleh tokoh besar seperti Sunan Ampel dan Emha Ainun Nadjib. Baginya, sebuah karya seni selalu bisa memberi inspirasi bagi banyak orang. ”Saya merasa sangat menjiwai dan bangga setelah memvisualisasikan beban pikiran ke dalam karya seni rupa,” ujarnya. 

Anang, yang dulu seorang guru, memang memilih full time menjadi seniman. Berkesenian, kata lelaki berusia 54 tahun itu, memberinya kebebasan penuh untuk berkarya. Maka, saat masih mengajar, ia selalu mendorong siswa membuat buku sebagai bagian dari proses belajar.

BACA JUGA:Pameran Tunggal Keempat Anang Prasetyo Tak Sengguh Kemanten Anyar, Sajikan Ruang Kontemplatif Petani Jiwa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: