Tradisi Kartu Tahun Baru Nengajo di Jepang Terancam Punah
Tradisi nengajo dapat ditelusuri kembali pada periode Heian di Jepang (794-1192) ketika kelas bangsawan saling mengirim salam untuk menandai tahun baru Imlek.-picture alliance-ASSOCIATED PRESS
BACA JUGA:5 Tradisi Unik Merayakan Tahun Baru dari Berbagai Negara
BACA JUGA:40 Ide Ucapan Selamat Tahun Baru 2026 dalam Bahasa Indonesia dan Inggris
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah isu privasi dan biaya. Jika dulu perusahaan memiliki basis data alamat rumah karyawan, kini akses tersebut ditutup demi perlindungan data pribadi.
Selain itu, harga kartu pos juga naik signifikan. Tahun ini, biaya satu kartu nengajo meningkat dari 63 yen menjadi 85 yen, atau sekitar Rp9.300-Rp9.500 per kartu.
Kenaikan itu menjadi beban tambahan di tengah keterbatasan uang belanja sebagian masyarakat Jepang.

Telah muncul fenomena nengajo-jimai. Orang-orang memberi tahu penerima bahwa tahun ini akan menjadi tahun terakhir mereka meneruskan tradisi tersebut.-picture alliance-ASSOCIATED PRESS
Meski begitu, nilai kesopanan tetap dijaga. Muncul tren baru bernama nengajo-jimai, yakni pemberitahuan resmi bahwa seseorang berhenti mengirim nengajo, disertai ucapan terima kasih atas hubungan yang telah terjalin.
BACA JUGA:6 Cara Merayakan Tahun Baru 2026 agar Lebih Berkesan dan Bermakna
“Memang sedikit sedih tidak lagi mengirim atau menerima kartu di Tahun Baru,” ujar Tomoko Hosokawa, ibu rumah tangga dari Prefektur Saitama.
“Namun akhir tahun selalu sangat sibuk. Media sosial kini menjadi cara utama kami saling memberi ucapan,” tambahnya.
Dia menyebut, bahkan dunia bisnis yang dahulu sangat bergantung pada nengajo kini tidak lagi menganggapnya penting.
“Suami saya dulu harus mengirim ratusan kartu untuk relasi usaha. Sekarang hampir tidak pernah lagi,” katanya.
BACA JUGA:BTS Sebut 20 Maret 2026 di Pesan Selamat Tahun Baru, Tanggal Comeback?
BACA JUGA:Mercure Surabaya Grand Mirama Usung Tema Mirama Games Land untuk Rayakan Malam Tahun Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: dw.com