Tradisi Kartu Tahun Baru Nengajo di Jepang Terancam Punah

Tradisi Kartu Tahun Baru Nengajo di Jepang Terancam Punah

Tradisi nengajo dapat ditelusuri kembali pada periode Heian di Jepang (794-1192) ketika kelas bangsawan saling mengirim salam untuk menandai tahun baru Imlek.-picture alliance-ASSOCIATED PRESS

Beban itu dirasakan semakin berat saat Tahun Baru tiba. Saat itulah dia menyadari ada seseorang yang terlupakan.

Dalam budaya Jepang, lupa mengirim nengajo masih bisa “diperbaiki” dengan mengirim kartu susulan agar tiba satu atau dua hari setelah Tahun Baru. Meski diperbolehkan, hal itu tetap dianggap sebagai kesalahan etiket kecil.

“Tahun ini, saya memilih menulis beberapa surat untuk orang-orang terdekat, mengirim kartu Natal untuk teman di luar negeri, lalu menelepon atau mengirim pesan media sosial kepada yang lain,” ujarnya.

BACA JUGA:Spellbound Symphony hingga Santa Around the Mall Meriahkan Natal dan Tahun Baru di Surabaya Barat

BACA JUGA:Collector’s Spotlight Orasis Art Space Tampilkan 10 Lukisan Sambut Libur Natal dan Tahun Baru

Ia menambahkan, budaya mengirim kartu kepada seluruh rekan kerja juga mulai menghilang. Seiring semakin tegasnya pemisahan antara kehidupan pribadi dan profesional.

Tradisi nengajo dapat ditelusuri hingga periode Heian (794-1192), ketika kaum bangsawan saling mengirim ucapan Tahun Baru berdasarkan kalender lunar.

Tradisi itu kemudian meluas ke masyarakat umum dan berkembang pesat pada era Meiji (1868-1912) seiring hadirnya sistem pos modern.

Awalnya, nengajo ditulis tangan dan dihiasi ilustrasi shio sesuai kalender Tiongkok. Tahun 2026 akan menjadi Tahun Kuda, yang kemudian disusul shio Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi, Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, dan Ular.

BACA JUGA:Inspirasi 30 Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru 2026 untuk Keluarga dan Sahabat

BACA JUGA:6 Rekomendasi Negara Eropa yang Wajib Dikunjungi saat Libur Natal dan Tahun Baru

Ironisnya, teknologi yang sempat mengangkat popularitas nengajo kini justru menjadi penyebab kemundurannya.

Kehadiran komputer rumah dan printer sempat membuat masyarakat antusias mencetak kartu dengan desain pribadi dan foto keluarga. Namun, kini ponsel pintar dan media sosial mengambil alih fungsi tersebut.

“Saya dulu mengirim sekitar 100 kartu setiap tahun. Tapi sekarang sudah berhenti sama sekali,” kata Kiyoko Date, karyawan perusahaan multinasional di Yokohama.

“Semua orang yang ingin saya sapa sudah ada di ponsel saya. Mengirim pesan digital jauh lebih cepat dan praktis,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: dw.com