Ironis, Stunting di Pasuruan pun Menyasar Anak-Anak dari Keluarga Mampu
Kasus stunting di Kota Pasuruan tidak hany dialami anak-anak dari keluarga kurang mampu. Namun, juga dialami anak-anak dari keluarga mampu-Istimewa -
PASURUAN, HARIAN DISWAY - Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menyebutkan prevalensi stunting di Kota Pasuruan tercatat masih sebesar 11,7 persen pada 2023.
Pemerintah Kota Pasuruan menargetkan penurunan prosentase hingga di bawah 5 persen. Namun, masalah stunting ternyata tidak hanya dialami oleh anak-anak dari keluarga kurang mampu atau miskin.
Kasus stunting di Kota Pasuruan juga dialami oleh anak-anak dari kalangan keluarga mampu. Bahkan, dengan orangtua berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).
BACA JUGA:Dari Meja Makan Keluarga: Peran Orang Tua dalam Menekan Angka Stunting di Indonesia
BACA JUGA:Peringati Hari Gizi Nasional 2026, BRI Peduli Perkuat Program Cegah Stunting di Berbagai Daerah
Wakil ketua komisi 1 DPRD Kota Pasuruan Hasjim Asjari mengungkapkan temuan kasus tersebut.
"Kami temukan di lapangan bahwa balita stunting bukan hanya dari anak-anak ekonomi kurang mampu. Dari kalangan anak orang mampu juga ada. Bahkan ortunya keduanya adalah ASN," katanya dikutip Selasa, 10 Maret 2026.
Kasus balita stunting sendiri banyak ditemukan di wilayah Gadingrejo yang sebenarnya juga bukan hanya berasal dari keluarga kurang mampu.
Melihat kasus itu, politikus senior partai Nasdem tersebut meminta semua pihak untuk bekerja sama menaruh perhatian kepada gizi anak-anak.
BACA JUGA:Penyaluran Paket Bantuan untuk Bumil Berisiko Stunting di Kota Pasuruan
BACA JUGA:Surabaya Pastikan, Tak Ada Angka Stunting Baru di 2027, Intervensi 4 Kelompok Rentan
Tugas mengurangi prosentase stunting disebut Hasjim bukan hany tugas pemerintah daerah melainkan juga termasuk lingkungan sekitar.
"Yang paling tahu menu dan gizi makanan anak-anak adalah orang-orang di sekitarnya. Jadi, menekan angka stunting di Kota Pasuruan ini jangan hanya dibebankan ke Dinas Kesehatan atau Pemkot. Tapi, keluarga juga harus terlibat," tandasnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan Shierly Marlena membenarkan adanya temuan kasus stunting yang dialami justru oleh anak-anak dari kalangan ekonomi menengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: