Dari Selat Sunda ke Houston, Ingatan yang Tetap Hidup
Ari Sufiati, diaspora Indonesia di Amerika Serikat, bersama Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo saat menghadiri Memorial Service USS Houston di Sam Houston Park, Houston, 7 Maret 2026.-Kedubes RI di AS-
SABTU siang, 7 Maret, langit Houston tampak kelabu. Namun di Sam Houston Park, kehangatan justru terasa begitu nyata. Ada kebahagiaan yang tersirat di antara mereka yang kembali bertemu setelah setahun berlalu.
Sebagian lainnya baru pertama kali berjumpa, termasuk saya, tetapi suasananya segera terasa akrab. Dari kejauhan, Community Band of Southeast Texas di bawah arahan Jacob McWherter memainkan sejumlah lagu, di antaranya folk songs seperti “Waltzing Matilda” dari Australia, yang semakin menambah nuansa khidmat dan patriotik dalam acara Memorial Service, bagian dari Day of Remembrance Weekend, yang diselenggarakan oleh USS Houston CA-30 Survivors’ Association & Next Generations.
Hari itu terasa bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah reuni yang hangat, akrab, dan sangat kekeluargaan. Semua yang hadir datang dengan satu tujuan: mengenang.
Kehidmatannya terasa semakin kuat karena tempat upacara itu sendiri membawa bobot sejarah yang besar. Di Sam Houston Park berdiri Monumen USS Houston, karya Jeff Ryan yang menjadi bagian dari taman itu sejak 1998. Di lokasi yang sama, terdapat lonceng kuningan kapal yang berhasil diangkat dari bangkai USS Houston, bertengger di atas pedestal granit yang memuat nama-nama awak kapal.
Yang membuat memorial service di Houston terasa semakin bermakna adalah kesadaran bahwa penghormatan itu tidak berdiri sendiri. Beberapa hari sebelumnya, pada 26 Februari, Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia berkumpul di Banten untuk memperingati 84 tahun Pertempuran Selat Sunda melalui peletakan karangan bunga di atas kapal TNI AL, di perairan tempat USS Houston dan HMAS Perth tenggelam. Sehari sesudahnya, 27 Februari, peringatan Pertempuran Laut Jawa berlangsung di Ereveld Kembang Kuning, Surabaya.

Dubes RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Susilo, memberikan pidato sambutan di acara Memorial Services, 7 Maret 2026 di Houston.-Kedubes RI-
Ingatan tentang USS Houston memang selalu membawa orang kembali ke awal 1942. Masa itu adalah salah satu masa paling genting dalam Perang Pasifik. Setelah Pearl Harbor, keadaan berubah sangat cepat. Garis pertahanan Sekutu goyah, pertempuran datang silih berganti, dan banyak keputusan harus diambil dalam keadaan yang serba mendesak.
USS Houston (CA-30), kapal penjelajah berat Angkatan Laut Amerika Serikat yang kemudian dikenal dengan julukan “Galloping Ghost of the Java Coast”, berada di tengah masa yang penuh tekanan itu. Pada akhir Februari 1942, kapal ini bertempur bersama pasukan Belanda, Inggris, dan Australia dalam Pertempuran Laut Jawa. Sekutu kalah besar. Keadaan memburuk dengan cepat. Namun Houston belum berhenti.
Kapal itu terus berlayar hingga mencapai Selat Sunda. Di sanalah, pada malam 28 Februari menuju 1 Maret 1942, USS Houston dan HMAS Perth berhadapan dengan konvoi invasi Jepang dalam ketimpangan kekuatan yang luar biasa. Pada akhirnya, kedua kapal itu tenggelam.
Sejak saat itu, Selat Sunda menyimpan lebih dari sekadar kisah pertempuran. Ia menjadi tempat berdiamnya begitu banyak ingatan. Dalam sambutannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, mengingatkan bahwa sejarah di Selat Sunda bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga amanah yang harus dijaga bersama.
“Menjadi tanggung jawab kita bersama, sebagai bangsa Amerika dan Indonesia, untuk melindungi dan menjaga makam perang bawah laut ini dengan penghormatan yang semestinya,” ujar beliau.

Ari Sufiati (dua dari kiri) bersama keluarga penyintas USS Houston CA-30. Dari kiri ke kanan: Michael Reilly, Ari, Donna Flynn, Teresa Reilly, Kathy Reilly.-Kedubes RI di AS-
Kalimat itu terasa kuat, apalagi diucapkan di tengah suasana yang dipenuhi keluarga korban, keturunan penyintas, veteran, dan mereka yang selama ini menjaga ingatan tentang USS Houston. Beliau juga mengingatkan bahwa mereka yang gugur di sana bukan hanya bagian dari sejarah perang, melainkan sosok-sosok yang pengorbanannya melampaui batas bangsa.
“Mereka adalah pahlawan bukan hanya bagi bangsa Amerika, tetapi bagi semua orang yang menjunjung kebebasan dan keadilan.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: