Dari Selat Sunda ke Houston, Ingatan yang Tetap Hidup

Dari Selat Sunda ke Houston, Ingatan yang Tetap Hidup

Ari Sufiati, diaspora Indonesia di Amerika Serikat, bersama Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo saat menghadiri Memorial Service USS Houston di Sam Houston Park, Houston, 7 Maret 2026.-Kedubes RI di AS-

Ucapan itu membuat siang itu terasa lebih luas. Kisah USS Houston tidak lagi hanya berbicara tentang satu negara, tetapi tentang ingatan bersama yang dijaga lintas generasi dan lintas batas.

Di acara memorial service itu hadir keluarga para korban, keturunan para penyintas, veteran, diplomat, dan personel militer aktif yang datang dari berbagai kota, bahkan dari luar negara bagian. Masing-masing datang dengan hubungan yang berbeda terhadap sejarah ini. Ada yang mewarisi kisah itu dari keluarga secara turun-temurun.

Ada yang meneruskannya melalui tugas negara. Ada pula yang datang karena merasa bahwa pengorbanan seperti ini memang layak terus diingat. Meski latar belakang mereka berbeda, rasa hormat yang hadir siang itu terasa sama.

Kehadiran Indonesia di acara ini pun terasa sangat kuat. Dipimpin oleh Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, rombongan dari Indonesia datang bukan sekadar sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai bagian dari bangsa yang kini menjaga perairan tempat kapal itu beristirahat. Dari Washington, D.C., beliau hadir bersama Atase Ekonomi Pangeran Ibrani dan Atase Laut Kolonel Yudi Adrian. Dari Houston, Indonesia diwakili oleh Ourina Ritonga, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Houston, bersama Konsul Pensosbud Suri Tauchid Ishak dan staf, Indira Vita Ariesia.


Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, bersama keluarga korban dan keturunan penyintas USS Houston menghadiri Memorial Service di Sam Houston Park, Houston, 7 Maret 2026. Acara ini menjadi momen penghormatan lintas bangsa atas pengorbanan-Kedubes RI di AS-

Sementara itu, Australia, Inggris, Selandia Baru, dan Belanda juga hadir memberi dukungan moral yang kuat. Dari Inggris, Commander David Brannighan dari Royal Navy membacakan "Ode". Saat kalimat “We will remember them” dilantunkan, suasana sejenak menjadi sangat hening. Bukan hanya karena bunyi katanya, tetapi karena kuatnya ikatan batin dengan peristiwa ini.

Begitu banyak momen pada akhir pekan itu yang memperlihatkan bahwa acara ini bukan hanya tentang tata upacara, melainkan juga tentang perjumpaan. Dari prosesi militer yang penuh penghormatan hingga percakapan-percakapan yang berlangsung hangat setelah acara, semuanya menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya hidup di arsip atau monumen. Masa lalu itu hidup dalam pertemuan antarmanusia, dalam cerita yang dibagikan kembali, dan dalam ingatan yang terus dirawat.

Salah satu sosok yang paling membekas bagi saya hari itu adalah Donna Flynn. Di usia 98 tahun, Donna, istri almarhum David Flynn salah satu penyintas USS Houston (CA-30), hadir dengan kehangatan dan energi yang luar biasa. Donna berkali-kali menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan pemerintah Indonesia, terutama TNI AL yang telah menjaga puing-puing kapal itu.

Kami sempat berpelukan, dan dengan ceria Donna bahkan menunjukkan beberapa gerakan tarian hula. Momen kecil itu terasa begitu hidup. Seolah mengingatkan bahwa setelah perang, setelah kehilangan, hidup tetap berjalan, membawa luka, tetapi juga membawa keteguhan.

Setelah acara selesai, kami pun berkunjung ke kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Houston untuk melihat satu sudut ruangan yang penuh sejarah. Di sana terdapat miniatur USS Houston dan sejumlah foto bersejarah. Sederhana, namun menyimpan makna yang mendalam. Dalam kisah yang kerap dibicarakan lewat skala besar perang laut, kapal perang, dan strategi militer, kehadiran miniatur itu justru membuat sejarah terasa lebih dekat, lebih personal, dan lebih nyata.

Bagi saya, justru di situlah arti peringatan seperti ini. Ia bukan hanya soal menoleh ke belakang, melainkan soal memilih cara kita merawat ingatan. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan mudah lupa, penghormatan seperti ini mengingatkan bahwa sejarah tidak selesai ketika perang usai. Ia tetap hidup selama masih ada yang bersedia datang, berdiri, dan menjaga hormat.

Selat Sunda, meski jauh dari Houston, bukan sekadar hamparan laut atau lokasi tenggelamnya USS Houston dan HMAS Perth. Perairan itu telah menjadi tempat berdiamnya ingatan selama delapan puluh empat tahun. Jarak boleh memisahkan keduanya, tetapi ingatan menghubungkannya dengan sangat dekat.

Kisah USS Houston dan HMAS Perth tetap hidup bukan hanya karena tercatat dalam sejarah, tetapi karena masih ada orang-orang yang terus menjaganya. Ingatan itu hadir dalam upacara peringatan, dalam diplomasi, dalam keluarga-keluarga yang datang kembali, dan dalam berbagai bentuk perhatian yang membuat cerita ini tidak hilang ditelan waktu.

Pada akhirnya, yang dijaga bukan hanya nama kapal atau tanggal pertempuran, tetapi juga penghormatan bagi mereka yang gugur. Itulah yang paling terasa di Sam Houston Park hari itu: bahwa mengenang adalah cara sederhana, namun penting, untuk memastikan mereka tidak dilupakan.

Houston, 8 Maret 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: