Mengoyak Adab dan Konstitusi Nahdlatul Ulama
--
Tiga hari berselang, secercah harapan muncul. Di kediaman rais Aam, sebuah acara makan-makan digelar. Gus Yahya hadir, begitu pula para pengurus yang selama ini berseberangan. Ada senyum, ada jabat tangan. Ada kesepakatan tak tertulis, sebuah gentlemen’s agreement ala kaum sarungan: Syuriyah akan menganulir (menasakh) keputusan pleno tanggal 9 Desember melalui pleno kedua, dan Gus Yahya setuju untuk menaati keputusan itu hingga pleno berikutnya digelar.
Rasanya Damai, Rasanya Masalah Selesai
Tapi sejarah manusia—dan sejarah organisasi ini—kerap kali adalah sejarah tentang pengkhianatan. Seperti yang saya tulis dalam esai sebelumnya, berjudul “Di Antara Tinta dan Kata”, belum lagi hilang hangat jabat tangan ketika kepercayaan itu dicederai kembali. Gus Yahya, sekali lagi, memilih jalan memutar, menelikung kesepakatan yang dibuat, di hadapan para kiai sepuh.
Pada akhirnya, Lirboyo di bulan Desember itu mengajarkan kita satu hal pahit: bahwa dalam perebutan kuasa, adab seringkali menjadi korban pertama yang jatuh. Dan rais Aam, dengan sikap mengalahnya di forum itu, mungkin menyadari bahwa menjadi benar dan prosedural saja tidak cukup untuk melawan arus besar yang menghalalkan segala cara.
Kita merindukan NU yang teduh. Tapi hari ini, keteduhan telah terusir dari ruang rapat, menunggu di luar pintu, menggigil kedinginan.
) Esais Nahdliyin Tinggal di Madura
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: