Ketika Tak Ada Yang Berani 'Bisiki' Objektivitas kepada Prabowo
ILUSTRASI Ketika Tak Ada Yang Berani 'Bisiki' Objektivitas kepada Prabowo.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
KETIKA manusia menjadi kuat, bahkan terlalu kuat –minimal menganggap dirinya kuat– ia bukan lagi manusia yang taktis dan realistis. Ia tidak lagi mampu menerima narasi yang bertentangan dengan kekuatan dirinya. Tidak ada lagi objektivitas yang menjadi pegangannya.
Dalam psikologi humanistik (seperti teori Abraham Maslow), manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk tumbuh dan berkembang hingga mencapai tingkat aktualisasi diri. Yakni, manusia merasa mampu menguasai lingkungan dan diri mereka sendiri.
Keyakinan akan diri yang terlalu dominan, saat melihat sesuatu yang tidak disukai menjadi kabur. ”Kacamatanya” kena kabut ”koncoisme”, anakbuahisme, ABS-isme, dan lain-lain.
BACA JUGA:Danantara dan Kopdes: Taruhan Besar Prabowo Melawan Kapitalisme Pasar
BACA JUGA:Prabowo, Demokratisasi, dan Dialog Deliberatif: Ketika Dialog Tak Selalu Terlihat
Apalagi, orang-orang di sekitar tokoh tersebut, ”jaraknya” terlalu jauh. Usia, ilmu, pengalaman, kekuasaan, modal sosial, dan finansial tidak imbang. Dengan demikian, jangan berharap agar mereka berani menyampaikan informasi yang adil dan objektif. Titik terendah saja berat, apalagi titik tertinggi.
Dua titik bertemu: anggapan dirinya hebat, visinya sudah merasa garis lurus, meski jalannya berkelok. Dan, di titik kedua, orang di sekitarnya menjaga hatinya agar tidak terluka sehingga semua perkataan dan masukannya: asal bapak senang.
Orang-orang objektif yang dulu dekat, entah sedang ke mana. Berani tegur kalau salah arah, berani ingatkan kalau kebijakan blunder, pada diam. Konon, info terbaru, semua masukan tetap diterima, tetapi ”mesin” otaknya sedang jalan dengan algritma lain.
BACA JUGA:Kapolri Mendahului atau Melawan Presiden Prabowo?
BACA JUGA:Momentum Presiden Prabowo Subianto
Itulah yang sedang terjadi pada Presiden Prabowo Subianto. Ia gagah berani jalan sendiri di medan pertempuran kehidupan yang makin berkelok. Ilmu pertempuran militer yang dimiliki, rasanya, kurang tajam jika dibandingkan dengan diplomasi ekonomi, politik, dan sosial yang belum sepenuhnya dikuasai.
Maka, tiga bulan ini beliau ”ngotot” atas dominasi kemauannya sendiri. Kritik dan masukan dari mantan presiden dan wapres pun ia terima dengan terbuka, tetapi kebijakan yang dijalankan tetap ego dirinya.
Ada tiga catatan sederhana.
BACA JUGA:In Group dan Out Group Kabinet Prabowo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: