Maling yang Kepergok di Cilegon Mengaku Pembunuh Axle: Aneh, tapi Nyata
ILUSTRASI Maling yang Kepergok di Cilegon Mengaku Pembunuh Axle: Aneh, tapi Nyata.-Arya-Harian Disway-
Dian: ”Alhamdulillah, pelaku (pembunuhan Axle, Red) tertangkap.”
Tapi, ia belum mau menjelaskan kronologi dan motif. Ia cuma mengatakan, pelaku mengaku membunuh Axle. Pelaku mengaku, ia masuk lewat pintu belakang. Mencongkel pintu dengan kunci pas. ”Pengakuannya berkesesuaian dengan hasil olah TKP,” ujarnya.
Kasus itu disorot keras oleh psikolog forensik Reza Indragiri Amriel. Kepada wartawan, ia menyatakan heran, kok ada maling yang mengakui membunuh. Ia juga heran, ada pembunuh bocah dengan 19 tikaman pisau, yang begitu brutal, dalam dua pekan pasca pembunuhan masih mencuri di rumah Roisyudin. Bahkan, sampai maling dua kali di sana.
Keheranan Reza lebih tepat ketidakpercayaan.
Reza: ”Ini, satu pelaku punya dua motif yang berbeda saat menyatroni dua rumah. Di rumah anggota PKS, pelaku datang tidak dengan motif instrumental (mendapatkan manfaat, Red). Sementara di rumah mantan anggota DPRD, pelaku yang sama datang dengan motif instrumental. Ini aneh sekali.”
Ia menganalisis. Jika benar AH membunuh Axle, secara psikologis, AH mengalami syok berat. Sebab, ia tidak punya riwayat membunuh orang. Seandainya berniat maling, lalu kepergok Axle, bisa saja pelaku membunuh Axle, tetapi tidak sesadis itu. Cukup dipukul tangan, bocah itu sudah pingsan.
Axle dibunuh secara brutal. Pembunuhan sebrutal itu menimbulkan syok pada pelaku.
Nah, dua pekan kemudian, Minggu, 28 Desember 2025, pelaku mencuri di rumah Roisyudin. Ditambah lagi, lima hari berikutnya pelaku balik lagi nyolong di rumah Roisyudin sehingga ditangkap.
Reza: ”Ini mencengangkan. Sehebat itukah pelaku? Atau, jangan-jangan pelaku pencurian bukanlah pelaku pembunuhan?”
Berarti, mungkin AH bohong mengaku sebagai pembunuh Axle. Atau, polisi mengarahkan pertanyaan ke sana (kasus pembunuhan Axle). Atau, polisi melakukan tekanan fisik atau psikologis atau keduanya agar AH mengakui membunuh Axle.
Reza: ”Sebab, tidak ada bukti hukum tentang pelaku pembunuh bocah itu. Tidak ada rekaman CCTV. Tidak ada saksi yang melihat pelaku. Juga, tidak ada hasil pengecekan sidik jari dan DNA pelaku di sekitar tubuh korban. Jadi, tanpa bukti hukum.”
Namun, Reza menyatakan menghormati penyidikan polisi. Asalkan, polisi tidak memaksakan diri menggiring pencuri itu juga sekaligus pembunuh Axle. Sebab, tekanan pihak keluarga Axle dan masyarakat terhadap polisi sangat kencang. Agar polisi segera mengungkap pembunuhan Axle.
Reza mengakhiri: ”Saya mengingatkan polisi, pengakuan tersangka bukan alat bukti hukum.”
Kasus rawan ini. Polisi sudah mengumumkan bahwa AH (juga) pelaku pembunuhan Axle. Maka, polisi tidak mungkin meralat itu. Polisi pasti menyidik lanjut. Sampai dua kasus tersebut diadili kelak.
Sebaliknya, analisis Reza yang meragukan polisi itu juga sangat keras. Kriminolog semestinya mitra polisi. Ini bertolak belakang. Mana yang bakal terbukti benar? (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: