Ujian Idealisme di Persimpangan Sejarah
ILUSTRASI Ujian Idealisme di Persimpangan Sejarah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Para pendiri bangsa menangkap ruhnya; Tjokroaminoto menyebutnya sebagai sosialisme sejati yang diajarkan nabi, sementara Soekarno menemukannya dalam keringat marhaen. Kini obor itu dipegang oleh dua ahli waris raksasa: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
MUSUH TAK TERLIHAT: JERAT PINJOL DAN JUDI ONLINE
Namun, tantangan zaman telah berganti rupa. Musuh hari ini tidak lagi datang dengan derap sepatu lars serdadu asing. Musuh kini mengenakan jubah samar, bersembunyi di balik regulasi, dan menyusup lewat teknologi.
Ketidakadilan bermanifestasi dalam kebijakan negara yang licin, algoritma aplikasi pinjaman online (pinjol) yang menjerat leher rakyat, hingga wabah judi online (judol) yang menyedot darah ekonomi kaum miskin desa. Belum lagi asap pekat kerakusan korporasi yang membakar hutan adat demi keuntungan ekstraktif.
Melawan musuh ”tak terlihat” itu, dibutuhkan strategi canggih. Muhammadiyah tak boleh berpuas diri hanya sebagai ”arsitek peradaban” dengan rumah sakit dan kampusnya. Perannya ditantang menjadi ”dapur intelektual” yang meracik kebijakan publik memihak rakyat.
Begitu pula NU, harus bergerak lebih dari sekadar ”penjaga tradisi”. NU harus bertransformasi menjadi ”benteng hidup” kedaulatan warga. Kekuatan kultural NU yang dahsyat harus menjadi mesin penggerak ekonomi bawah, menjadikan pesantren sebagai jantung ekonomi umat yang memotong jalur lintah darat digital dan melindungi wong cilik dari gilas roda neoliberal.
ANTARA KEMANDIRIAN FINANSIAL DAN MARWAH ORGANISASI
Sayangnya, di tengah panggilan mendesak itu, muncul godaan mengkhawatirkan: tawaran konsesi tambang dan kedekatan dengan kekuasaan. Narasi ”memperbaiki sistem dari dalam” sering menjadi jebakan mematikan.
Batas antara memengaruhi kebijakan atau terseret arus pragmatisme sangatlah tipis. Sejarah mencatat, suara kritis wakil umat sangat berisiko terkooptasi hingga lupa siapa yang mereka wakili.
Tawaran konsesi tambang bagi ormas bukan sekadar peluang bisnis. Itu menyangkut identitas fundamental. Ia laksana buah simalakama beracun: menjanjikan kemandirian finansial, tetapi mengancam menarik ormas ke pusaran industri ekstraktif yang penuh dosa ekologis dan konflik agraria. Itu adalah jebakan yang berisiko menukar marwah suci dengan keuntungan semu.
Pertanyaan mendasarnya: berapa harga yang pantas dibayar untuk sebuah ”kemajuan” organisasi jika harus mengorbankan integritas sebagai penjaga moral? Apakah ini pemberdayaan murni atau kooptasi halus agar ormas diam terhadap kekuatan yang merusak alam?
Jika ormas agama menjadi pemain tambang, kepada siapa lagi rakyat mengadu ketika tanah mereka dirampas dan air mereka tercemar limbah?
MENJAGA KOMPAS BATIN DI TENGAH ARUS SEJARAH
Di persimpangan sejarah krusial itulah, NU dan Muhammadiyah harus sadar di mana letak kekuatan sejati mereka. Kekuatan itu tidak di lobi senyap istana atau lubang tambang batu bara, melainkan pada kepercayaan tulus jutaan umat akar rumput yang melihat ormas sebagai pelindung terakhir.
Legitimasi moral itulah yang dipertaruhkan dan nilainya jauh lebih mahal daripada emas mana pun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: