Ujian Idealisme di Persimpangan Sejarah

Ujian Idealisme di Persimpangan Sejarah

ILUSTRASI Ujian Idealisme di Persimpangan Sejarah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

JAUH sebelum fajar, risalah merekah di padang pasir Makkah, kota itu berdiri sebagai monumen kesenjangan yang sangat kejam. Struktur sosialnya bukan sekadar pembagian kasta, melainkan juga sebuah sistem pengisapan yang terstruktur, di mana pundi-pundi kekayaan dan simpul-simpul kekuasaan hanya melingkar erat di tangan segelintir elite Quraisy

Sementara itu, di lorong-lorong sempit yang jauh dari kemilau pasar, jerit pilu mereka yang tak punya suara nyaris tak terdengar oleh mereka yang sedang berpesta.

Mereka adalah para budak yang nasibnya ditentukan sepenuhnya oleh ayunan cambuk, anak-anak yatim yang hak dasarnya digerogoti kerabat sendiri, serta kaum papa yang tercekik utang riba tanpa harapan. 

BACA JUGA:Sejarah Campur Tangan AS di Amerika Latin

BACA JUGA:Surabaya Menulis Sejarah Baru di Halaman Balai Pemuda

Kaum mustadh’afin itu hanyalah pilar tak terlihat yang dipaksa menopang menara gading kemewahan para mustakbirin. Tragisnya, keberadaan mereka dianggap sebagai sebuah kewajaran dalam tatanan sosial yang telah lama membekukan nuraninya.

Ke dalam realitas yang pengap itulah, sebuah gagasan datang laksana badai yang menyegarkan: Islam. Penting untuk kita pahami bahwa Islam bukan sekadar dogma teologis tentang Tuhan yang jauh di langit, melainkan juga sebuah maklumat pembebasan paling radikal di bumi. 

Ketika Islam menyatakan bahwa hanya ada satu Penguasa Mutlak, hancurlah semua berhala sosial yang melegitimasi penindasan manusia atas manusia lain. Di hadapan-Nya, tuan dan hamba berdiri sejajar di garis yang sama. 

Itulah keyakinan yang mengalirkan kekuatan pada jiwa seorang Bilal, yang bahkan di bawah siksaan batu panas mampu menemukan kemerdekaan sejatinya karena menyadari kesetiaan tertingginya bukan pada tuannya, melainkan kepada Tuhan-nya. Dari sanalah DNA perlawanan terhadap segala kezaliman itu lahir.

DARI MADINAH HINGGA JANTUNG NUSANTARA

DNA perlawanan itu tidak berhenti di Makkah, tetapi tumbuh subur di Madinah sebagai pohon peradaban. Peristiwa Hijrah harus kita maknai bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai sebuah proyek raksasa untuk membangun dunia alternatif. 

Solidaritas organik antara kaum Muhajirin dan Ansar kemudian dilembagakan melalui zakat dan baitul mal, menjadikan ekonomi sebagai nadi kehidupan yang berkeadilan.

Meski memiliki gema yang sama dengan gerakan pembebasan lain seperti sosialisme, perjuangan Islam memiliki akar yang berbeda secara fundamental karena berakar pada panggilan Ilahi dengan cakrawala pertanggungjawaban hingga akhirat. 

Api perjuangan tersebut melintasi samudra dan abad hingga menemukan ekspresinya dalam denyut nadi perjuangan Nusantara. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: