Dari Bangkalan ke Tebuireng: Napak Tilas yang Hidupkan Nilai-Nilai NU

Dari Bangkalan ke Tebuireng: Napak Tilas yang Hidupkan Nilai-Nilai NU

Ilustrasi NU/Net--

Para ulama pun bahu-membahu memperjuangkan agama dan bangsa. Meskipun tantangan masa kini berbeda, semangat perjuangan harus terus dilanjutkan dengan menjaga kebersamaan, ukhuwah, dan persatuan untuk menggapai rida Allah SWT.

MAKNA SIMBOLIS DI BALIK PERJALANAN

Gerimis yang mengiringi perjalanan memberikan makna yang dalam –sebagai cermin perjalanan sejarah NU yang tidak selalu mulus, tetapi tetap dijalani dengan istiqamah

Pepatah ”alon-alon waton klakon” menemukan relevansinya dalam acara tersebut, yang tidak mengejar kecepatan, tetapi makna dan keselamatan. 

Gerimis juga dianggap sebagai pembersih niat, mengingatkan bahwa perjuangan ulama selalu dekat dengan doa dan kesederhanaan.

Tradisi jalan kaki dalam napak tilas juga diartikan sebagai bentuk tirakat yang mendidik tubuh dan menempa jiwa. Para pendiri NU membangun peradaban dari kesederhanaan dan riyadhah, bukan kemewahan. 

Hal itu menegaskan bahwa perjuangan NU bertumpu pada kesungguhan dan kesediaan berkorban demi kemaslahatan umat.

Selain itu, penyerahan tongkat dan tasbih memiliki makna simbolis penting: tongkat melambangkan keteguhan kepemimpinan, sedangkan tasbih melambangkan kedalaman spiritualitas. Kedua elemen itu harus seimbang agar kepemimpinan NU tidak kehilangan arah dan makna.

RELEVANSI NAPAK TILAS DI ERA POST-TRUTH

Di era ketika narasi sering kali mengalahkan nalar dan emosi mengalahkan verifikasi, napak tilas menjadi kompas etik bagi kepemimpinan NU. Acara itu mengingatkan bahwa NU lahir dari sanad keilmuan, laku batin, dan kesadaran sejarah, bukan dari kepentingan sesaat.

Para muassis membangun NU melalui keteladanan dan kesabaran, bukan penguasaan opini –sesuai prinsip ”sepi ing pamrih, rame ing gawe” yang kontras dengan karakter post-truth yang gaduh dan instan. 

Hadis yang menyatakan ”cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar” (H.R. Muslim Nomor 5) menjadi peringatan penting bagi seluruh warga nahdliyin untuk selektif dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi.

Kepemimpinan NU di era sekarang dituntut untuk menjernihkan narasi, tidak hanya memenangkannya. Klarifikasi yang emosional dan pembelaan yang reaktif cenderung merusak sehingga diperlukan kebijaksanaan dan ketenangan dalam menghadapi berbagai tantangan.

HARAPAN DAN DOA

Semoga semangat perjuangan para pendiri NU yang hidup kembali melalui napak tilas itu dapat menjadi bekal bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga nilai-nilai dasar organisasi itu dan NU tetap menjadi rumah besar umat yang besar karena adab, kuat karena kesabaran, dan hidup karena kepercayaan masyarakat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: