Ekonomi Global Melambat, OJK Pastikan Keuangan Indonesia Tetap Tangguh
OJK resmi menerbitkan peraturan baru yang mempermudah pembiayaan UMKM--
JAKARTA, HARIAN DISWAY - Awan perlambatan ekonomi global mulai menggelayut. Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan fondasi sektor Keuangan Indonesia masih kokoh memasuki 2026.
Kepastian itu ditegaskan seusai Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 24 Desember 2025. Stabilitas sistem keuangan nasional dinilai tetap terjaga di tengah tekanan global.
Data terbaru menunjukkan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih. Aktivitas manufaktur global memang masih berada di zona ekspansi, tetapi lajunya kian moderat.
Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melandai di bawah tren pra-pandemi. Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya risiko fiskal di negara-negara maju.
BACA JUGA:OJK Ajak Bangun Ekosistem Keuangan Berintegritas di Peringatan Hakordia 2025

Perkembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon-Dok.OJK-
Amerika Serikat masih menunjukkan daya tahan. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen secara tahunan (Seasonally Adjusted Annual Rate /SAAR), ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi teknologi.
Sebaliknya, Tiongkok masih bergulat dengan tekanan domestik. Konsumsi belum pulih optimal dan indeks PMI manufaktur kembali masuk zona kontraksi.
Di tengah dinamika tersebut, pasar keuangan Indonesia justru mencatat kinerja impresif. Sepanjang 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 22,13 persen secara tahunan dan ditutup di level 8.646,94.
Rekor tertinggi sepanjang masa tercatat sebanyak 24 kali dalam setahun. Likuiditas pasar saham menguat, terutama berkat dominasi investor ritel domestik yang menyumbang sekitar 50 persen transaksi.
BACA JUGA:Optimisme dan Stagnasi 2026: Perlambatan Bayangi Pertumbuhan Ekonomi

Perkembangan Sektor Perbankan (PBKN)-Dok.OJK-
Kepercayaan investor asing juga terjaga. Pada Desember 2025, investor global mencatatkan net buy saham lebih dari Rp12 triliun.
Industri pengelolaan investasi terus bertumbuh. Nilai aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) menembus Rp1.033 triliun, dengan jumlah investor pasar modal meningkat menjadi 20,36 juta pada akhir 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: