Pembunuhan Jukir oleh Jukir di Cilangkap, Depok: Dipicu Tunggak Utang
ILUSTRASI Pembunuhan Jukir oleh Jukir di Cilangkap, Depok: Dipicu Tunggak Utang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Utang tak terbayar memang bisa memicu kemarahan kreditur. Apalagi, bagi orang miskin seperti pelaku dan korban. Nilai uang segitu dianggap cukup bernilai. Meskipun penghasilan jukir seperti mereka di Jabodetabek sekitar Rp300 ribu per hari. Tapi, kan dibagi beberapa pihak.
BACA JUGA:Pengutang Bunuh Penagih
BACA JUGA:Pelatih Senam Bunuh Suami Suka Utang
Dikutip dari Nasdaq, 8 November 2010, berjudul Debt’s most tragic toll: murder-suicide, diungkapkan para ahli, utang bisa jadi pemicu pembunuhan dan bunuh diri.
Disebutkan, kecemasan, depresi, ketakutan, bahkan kemarahan yang hebat, adalah reaksi umum di antara orang-orang yang mengalami masalah keuangan yang parah (miskin).
Juga, kehilangan pekerjaan dan tagihan pembayaran yang menumpuk dapat memicu hasil terburuk: pembunuhan-bunuh diri.
Umumnya pelaku kejahatan keji ini mungkin percaya bahwa itu adalah satu-satunya jalan keluar, hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi.
Ada hubungan antara ekonomi dan psikologi. Terjadi peningkatan tajam kasus pembunuhan-bunuh diri di seluruh Amerika Serikat (AS) sejak resesi 2008, kata psikolog klinis berlisensi di Manhattan, AS, Joseph Cilona.
Cilone termasuk di antara banyak ahli yang melihat adanya hubungan tekanan ekonomi dengan kriminalitas. ”Uang dan kesuksesan serta keamanan finansial sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan fisik dan psikologis serta harga diri,” kata Cilona.
Tanpa itu, terjadi peningkatan perasaan putus asa secara umum, dan ketidakpuasan terhadap keadaan hidup. Semua masalah ini dapat dikaitkan dengan pemikiran perilaku kekerasan, juga bunuh diri.
Sebaliknya, Beth Morrison menyatakan belum tentu. Beth Morrison, presiden dan CEO Haven, pusat pencegahan dan pengobatan kekerasan dalam rumah tangga dan seksual di Detroit, AS.
Morrison: ”Ekonomi yang buruk tidak selalu membuat seseorang bertindak kekerasan. Jika hal itu terjadi, umumnya pelaku tersebut sudah melakukan kekerasan sebelumnya, dan meningkatkan frekuensi kekerasan yang ia lakukan.”
Hasil riset yang dilakukan Jacquelyn C. Campbell dari Universitas Johns Hopkins, AS, menemukan bahwa pengangguran merupakan faktor risiko signifikan untuk kejadian pelaku pembunuhan atau bunuh diri. Tetapi, itu hanya terjadi jika terkait riwayat kekerasan dalam rumah tangga.
Morrison melaporkan bahwa panggilan ke saluran bantuan 24 jam Haven meningkat sekitar 20 persen selama beberapa tahun terakhir (sampai dengan naskah itu dipublikasi).
Morrison: ”Apa pun tekanan finansial mereka: utang kartu kredit, penyitaan rumah, pengangguran, kekerasan yang mereka alami meningkat.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: