Ekonomi Global Cemas, Eskalasi AS-Iran Bikin Harga Minyak Naik

Ekonomi Global Cemas, Eskalasi AS-Iran Bikin Harga Minyak Naik

DEMONSTRAN DI LONDON memprotes rezim Iran yang dituding membantai warganya.-AFP UGC-

Namun, kenaikan-kenaikan itu tampak rapuh ketika dihadapkan dengan risiko di Teluk Persia. Negara-negara kawasan sadar bahwa ketegangan AS–Iran bukan cuma urusan rudal atau sanksi. Tapi, di situ ada faktor harga minyak, arus perdagangan, dan stabilitas keuangan regional.


PENGGALAN VIDEO yang menunjukkan lusinan jenazah ditempatkan di Pusat Laboratorium dan Forensik Teheran, 10 Januari 2026.-AFP UGC-

Qatar adalah salah satu yang paling vokal. Juru bicara kementerian luar negeri Qatar Majed al-Ansari memperingatkan bahwa eskalasi militer antara Washington dan Teheran akan menghasilkan ’’kiamat.’’ ’’Kami akan berupaya menghindari konflik itu sebisa mungkin,’’ kata Ansari.

Pernyataan Qatar itu memang berdasar pada pengalaman. Juni 2025, Iran membalas serangan AS ke fasilitas nuklirnya dengan menarget Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar. Doha kemudian memanfaatkan serangan di wilayahnya itu untuk menengahi gencatan senjata cepat antara kedua pihak. Pengalaman tersebut membuat Qatar lebih realistis melihat potensi konflik ke wilayah Teluk yang menjadi jantung pasokan energi global.

Di sisi lain, Washington juga tidak menutup opsi militer. Gedung Putih pada Senin, 12 Januari 2026, kembali menegaskan bahwa Trump mempertimbangkan serangan udara terhadap Iran untuk menghentikan penindasan terhadap demonstran.

Iran balik mengancam. Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut militer dan pelayaran AS sebagai target ’’sah”.


KAPAL KARGO melintasi Selat Hormuz, Juni 2026. Ketegangan kawasan tersebut akan menghambat perdagangan dunia.-AFP UGC-

Eskalasi verbal itu terjadi berbarengan dengan meningkatnya jumlah korban dalam protes di Iran. Matinya jaringan internet yang berlangsung beberapa hari memperlambat aliran informasi, tetapi kelompok hak asasi mulai merilis angka korban.

Organisasi Iran Human Rights (IHR) berbasis di Norwegia menyebut telah mengonfirmasi 648 orang tewas, termasuk sembilan remaja. Namun, mereka menambahkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. Bahkan, menurut beberapa perkiraan, korban tewas lebih dari 6 ribu orang.

Kondisi itu membuat dunia semakin cemas. Setiap kali Iran bergolak, pasar energi mengikuti. Ketergantungan global terhadap minyak masih tinggi, dan Iran berada di pusat jalur distribusi strategis. Ketegangan di Selat Hormuz—penghubung sekitar seperlima pasokan minyak dunia—selalu menjadi skenario horor bagi investor.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Volker Turk juga menyatakan kengeriannya terhadap kekerasan di Iran. Turk Teheran menghentikan segala bentuk represi. 

Di tengah ketegangan, masih ada upaya diplomasi. Qatar mengaku pihaknya masih berbicara dengan semua pihak untuk solusi damai. 

Lonjakan harga minyak pada pekan ini menunjukkan satu hal: ekonomi dunia masih sangat rentan terhadap konflik antara AS dan Iran. Jika keduanya masuk fase militer, dampaknya bukan hanya di Teluk, tetapi juga di pom bensin berbagai negara, angka inflasi, dan neraca perdagangan negara-negara jauh dari lokasi konflik. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: