Cheng Yu Pilihan Pegiat Budaya-Penulis Buku Miranti Serad Ginanjar: Jian Shou Bing Xu
MIRANTI SERAD GINANJAR, penulis buku & pegiat budaya, berprinsip jian shou bing xu. Menyerap sari pati terbaik dari mana pun. --Dokumentasi Pribadi
HARIAN DISWAY - Sejak zaman dahulu, para filosof Tiongkok, apapun alirannya, kompak mengajarkan manusia untuk tidak tinggi hati dan mau meneladani lebah yang "兼收并蓄" (jiān shōu bìng xù): menyerap sari pati terbaik dari mana pun.
Spirit keterbukaan demikian ternyata juga bisa kita resapi dari perjalanan panjang sejarah kebaya. "kebaya bukan sekadar busana tradisional, melainkan jejak hidup proses akulturasi budaya yang berlangsung berabad-abad di Nusantara. Ia lahir dari pertemuan berbagai peradaban, Lokal, Tionghoa, hingga Eropa—yang kemudian menyatu secara halus dalam bentuk, fungsi, dan makna," ujar Miranti Serad Ginanjar yang seorang pegiat budaya.
Secara historis, Miranti lanjut menguraikan, kebaya berkembang melalui interaksi budaya Melayu, Jawa, Arab, Tiongkok, dan Eropa.
Bentuk awalnya dipengaruhi tunik longgar Asia Barat, lalu bertransformasi melalui sentuhan estetika lokal Jawa yang menekankan kesantunan, tata krama, dan keanggunan. Pada masa kolonial, unsur Eropa hadir melalui penggunaan renda, kancing, dan potongan yang lebih terstruktur.
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Managing Partner Handiwiyanto Law Office Richard Handiwiyanto: Bei Yi Zi Mu
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Ketua Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) Jawa Timur Rudie Risdianto: Yan Er You Xin
Di wilayah pesisir, khususnya komunitas Peranakan, kebaya mengalami adaptasi unik: warna lebih cerah, bordir detail, dan material ringan—mencerminkan dialog budaya Tionghoa dan Nusantara.
Ya, akulturasi pada kebaya kain pesisiran tidak pernah bersifat dominatif, melainkan dialogis. Unsur Tionghoa tidak menghapus identitas lokal, justru dipilah, disesuaikan, dan diberi makna baru. Inilah kekuatan kebaya: ia berubah tanpa kehilangan jati diri.
"Hari ini, kebaya terus berevolusi dalam ranah fesyen modern dan panggung global. Namun esensinya tetap sama—sebuah simbol bahwa identitas budaya Indonesia dibangun melalui keterbukaan, kehalusan rasa, dan kesinambungan nilai," pungkas Miranti yang juga penulis buku Batik Kudus: The Heritage (2015) dan Kebaya: Keanggunan yang Diwariskan (2025). (*)
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Pemenang Duta Nusantara 2025 Dasega Arya Eka Cipta: Wen Zhi Bin Bin
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Ketua KONI Jawa Timur Muhammad Nabil: Gong Bu Tang Juan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: