Refleksi Isra Mikraj: Dimensi Kemanusiaan Ajaran Langit

Refleksi Isra Mikraj: Dimensi Kemanusiaan Ajaran Langit

ILUSTRASI Refleksi Isra Mikraj: Dimensi Kemanusiaan Ajaran Langit.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ilustrasinya, tidak mungkin kita mencuci baju dengan air najis. Dalam sudut pandang psikologi, orang yang melaksanakan amalan baik dan buruk sekaligus berarti mengalami kepribadian terbelah (split of personality). 

Bahkan, orang yang berperilaku demikian dapat dikatakan mengalami sakit mental (mental illness). Agama apa pun pasti tidak mengajarkan pemeluknya berkepribadian ganda. 

Ajaran agama pasti memerintah pemeluknya menjadi orang yang terbaik dalam pandangan Tuhan dan sesama. Dalam kaitan dengan penghargaan kepada nilai-nilai kemanusiaan, agama mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. 

Karena itu, Al-Qur’an mengutuk orang yang salat, tetapi lalai dengan salatnya. Mereka yang dikatakan lalai adalah yang tidak tulus (riya’) dan tidak mau menolong orang lain (Q.S. Al-Ma’un: 5-7). 

Dalam kondisi bangsa yang kini sedang menghadapi rangkaian musibah alam di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, rasanya peringatan dalam surat Al-Ma’un penting direnungkan agar kita terhindar dari label pendusta agama. 

Pendusta agama adalah mereka yang tidak mampu menerjemahkan ajaran salat dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, setiap pribadi harus membumikan makna ibadah salat yang merupakan hasil perjalanan suci Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra dan Mikraj. 

Setiap pribadi dituntut untuk membumikan makna bacaan dan gerakan salat dalam kehidupan. Jika nilai-nilai salat dipraktikkan dalam kehidupan, berarti kita telah membumikan pesan ajaran langit. 

Secara lebih konkret, membumikan ajaran langit di negeri rawan bencana alam ini tentu meniscayakan sinergi semua elemen bangsa untuk menghadapi musibah nasional dengan ajaran tolong-menolong (the theology of al-ma’unism).

Ajaran agama yang sangat fundamental mengenai pentingnya tolong-menolong (religious gift) kepada sesama itu harus dipraktikkan dengan tanpa melihat latar belakang etnis, budaya, dan agama. 

Sebagai bangsa, kita patut bersyukur karena beberapa tahun terakhir memperoleh award sebagai negara paling dermawan di dunia. Anugerah itu dapat dibaca melalui hasil survei Gallup International Survey dan Charity Aid Foundation bertajuk World Giving Index (Indeks Kedermawanan Negara-Negara di Dunia).

Akhirnya, semoga filantropisme yang dipraktikkan melalui budaya saling menolong terus bertumbuh di negeri tercinta. Rasanya, itulah pesan penting berdimensi kemanusiaan dari ajaran langit sebagai hasil perjalanan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad yang terkandung dalam rangkaian ibadah salat. (*)

*) Biyanto adalah guru besar UIN Sunan Ampel dan sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: