Refleksi Isra Mikraj: Dimensi Kemanusiaan Ajaran Langit
ILUSTRASI Refleksi Isra Mikraj: Dimensi Kemanusiaan Ajaran Langit.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Isra Mikraj pada Zaman Modern, Melangkah dalam Cahaya Spiritual
Jika seseorang rajin beribadah ritual, seharusnya baik pula amal sosialnya. Karena itulah, Islam menekankan pentingnya keselarasan ibadah ritual dengan amal sosial.
Melalui ibadah yang dijalani, setiap muslim harus mewujudkan kesalihan individual sekaligus kesalihan sosial. Salah satu ajaran yang menunjukkan adanya keterkaitan ibadah ritual dan amal sosial adalah salat. Salat sejatinya merupakan peribadatan yang bersifat sangat pribadi.
Dalam sabda nabi ditegaskan bahwa salat merupakan mikraj seorang mukmin kepada Tuhan-nya (al-salatu mi’raj al-mu’min). Selama menunaikan salat, seorang hamba hanya boleh menjalin hubungan secara vertikal dengan Allah.
Ajaran takbiratulihram (takbir yang mengharamkan) dalam salat bermakna larangan hamba melakukan apa pun yang tidak berhubungan dengan Allah. Tatkala mengangkat tangan seraya membaca Allahu Akbar (Allah Maha Besar), seluruh pikiran harus fokus hanya kepada Allah.
Namun, penting diingat, meski dimulai dengan takbiratulihram, salat diakhiri dengan taslim (salam). Ajaran salam dalam salat memberikan pesan pentingnya menjaga hubungan baik kepada sesama. Dengan begitu, ajaran salam meniscayakan seorang hamba berakhlak baik kepada sesama.
Selain membaca salam, orang yang mendirikan salat dianjurkan untuk menengokkan kepala ke sebelah kanan dan kiri. Secara simbolis, ajaran salam berarti perintah memperhatikan orang-orang di sekitar seraya bertanya adakah di antara mereka yang membutuhkan bantuan?
Begitulah makna intrinsik dan instrumental yang diajarkan melalui ibadah salat. Jika seluruh bacaan dan gerakan salat dicermati, sesungguhnya ada banyak pesan yang bisa dipetik.
Substansi pesan yang diajarkan dalam salat adalah setiap hamba menjalin hubungan baik dengan Allah (hablun minallah) dan sesama manusia (hablun minannas). Jika ada orang rajin beribadah, seangkan amal sosialnya buruk, ia berarti gagal memahami substansi ajaran agama.
Orang itu pasti tidak memahami makna ibadah ritual yang dijalankan. Mengingat begitu tegas pesan sosial ibadah salat, setiap pribadi harus mengaktualisasikannya dalam akhlak keseharian.
DIMENSI KEMANUSIAAN
Dimensi kemanusiaan dari ajaran agama penting dipahami dengan baik. Hal itu karena terkadang ada orang rajin beribadah, tetapi berakhlak buruk. Misalnya, seseorang rajin haji dan umrah, tetapi sepulang dari Tanah Suci, ia tidak menjadi lebih baik.
Bahkan, ada orang berangkat haji dan umrah dengan biaya hasil korupsi. Harapannya, melalui ibadah haji dan umrah dosa-dosanya terhapus.
Dalam sebuah hadis memang dikatakan bahwa orang yang berhaji dan umrah akan diampuni seluruh dosanya. Saat pulang ke kampung halamannya, para tamu Allah (wafdullah) dinyatakan bersih dari dosa layaknya bayi yang baru lahir (H.R. Bukhari, Muslim, dan Nasa’i).
Namun, penting diingat, janji Rasulullah itu tidak berlaku bagi mereka yang beribadah haji dan umrah dengan menggunakan uang haram.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: