Tren Menulis Surat, Solusi Lepas dari Layar Digital
Tren menulis surat kini bangkit lagi. Sebagai cara melepaskan diri atau rehat sejenak dari dunia digital.-Charles Krupa-AP
Aktivitas menulis juga menjadi bentuk pelarian dari budaya selalu terhubung. Mahasiswi Chicago berusia 21 tahun, Stephania Kontopanos, menulis kartu pos, membuat scrapbook, dan junk journaling.
Dia menilai kebiasaan itu membantunya lebih sadar akan waktu. Menurutnya, pergi ke kantor pos kini menjadi aktivitas bermakna. Dia bisa bertemu dengan orang-orang baru.
Sementara itu, nostalgia menjadi faktor penting bagi KiKi Klassen asal Ontario, Kanada. Dia mendirikan Lucky Duck Mail Club, layanan surat bulanan.
BACA JUGA:Public Speaking, Keterampilan yang Wajib Dikuasai di Era Digital
BACA JUGA:Friendship Goals, Arti Sahabat di Era Digital
Komunitas itu kini memiliki lebih dari 1.000 anggota di puluhan negara. Klassen menyebut menulis di atas kertas menciptakan ruang aman. Pun, sarana untuk mengekspresikan perasaan secara jujur.
Perasaan serupa juga dirasakan Bobbitt. Dia selalu menantikan isi kotak suratnya. Bobbitt menilai surat pribadi membawa kegembiraan tersendiri. Jauh dibandingkan pesan digital.

Ilustrasi surat-surat. Itu digunakan masyarakat masa lalu untuk saling terhubung. Kini, menulis surat kembali jadi tren.-Charles Krupa-AP
Fenomena itu turut melahirkan ruang pertemuan analog. Seperti CAYA di Dallas, Amerika Serikat, yang digagas DJ Robert Owoyele.
Acara tersebut mempertemukan orang-orang dalam kegiatan menulis surat, mewarnai, hingga mendengarkan piringan hitam. Itu dilakukan demi membangun koneksi nyata.
BACA JUGA:Nomophobia, Ketergantungan Ponsel di Era Digital yang Perlu Diwaspadai
BACA JUGA:Self Control Era Digital, Cara Mengendalikan Diri dari Kebiasaan Buruk demi Masa Depan Lebih Baik
Meski terlihat sederhana, memulai kebiasaan itu membutuhkan kesadaran untuk memprioritaskan waktu. Kontopanos menilai semakin bertambah usia, semakin terasa banyak waktu terbuang di ponsel.
Komunitas seperti klub mesin tik, pameran percetakan, hingga grup kaligrafi di media sosial menjadi pintu masuk bagi pemula.
Klassen bahkan memprediksi tren itu akan semakin populer. “Anak muda akan semakin memilih hidup analog pada 2026,” katanya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: ap