Optimisme dan Kewaspadaan Ekonomi Tiongkok 2025,Tumbuh tapi Mepet
SUASANA PAMERAN China International Import Expo (CIIE) di Shanghai, 7 November 2025. Ekonomi Tiongkok tertolong volume ekspor yang tinggi.-HECTOR RETAMAL-AFP-
Produksi industri memang tumbuh 5,9 persen sepanjang 2025, sedikit melambat dibanding tahun sebelumnya. Namun, data Desember menunjukkan pertumbuhan menjadi 5,2 persen, lebih tinggi dari November. Sekilas memberi harapan, tetapi faktornya jelas.
BACA JUGA:Sejarah Siomay atau Shao Mai di Tiongkok, Ragam Cita Rasa dari Guangzhou hingga Mongolia Dalam
“Data aktivitas Desember menunjukkan pertumbuhan output memperoleh momentum di akhir tahun. Tetapi, itu sebagian besar didorong oleh ekspor yang tangguh,” kata Huang. Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi pada 2026 kemungkinan akan sedikit lebih slow dibanding 2025.
Pemerintah Tiongkok pun mencoba menyoroti sektor manufaktur. Indeks manajer pembelian (Purchasing Manager Index/PMI) manufaktur naik tipis ke level 50,1 pada Desember. Sedikit di atas ambang batas ekspansi. Itu adalah sinyal positif pertama sejak Maret. Namun, margin optimisme itu amat tipis.
Di sisi lain, sektor properti—yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kekuatan ekonomi Tiongkok—belum menunjukkan pemulihan berarti. Meski suku bunga dipangkas dan pembatasan pembelian rumah dilonggarkan, krisis utang belum terurai.
Investasi aset tetap menyusut 3,8 persen sepanjang 2025, mencerminkan penyesuaian setelah puluhan tahun belanja besar-besaran di properti dan infrastruktur. Investasi realestat bahkan anjlok 17,2 persen, menandakan sektor perumahan masih lesu dan jauh dari kata stabil.

JAJARAN MOBIL yang akan diekspor disiapkan di Pelabuhan Yantai, 18 Januari 2026.-AFP-
Tekanan eksternal turut memperumit situasi. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada Januari lalu memicu kembali perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut. Tarif balasan kembali menghantam arus perdagangan bilateral.
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Trump sempat mencapai ’’gencatan senjata’’ sementara saat bertemu pada akhir Oktober 2025. Keduanya sepakat menunda sejumlah langkah paling menyakitkan, termasuk kenaikan tarif yang agresif. Namun, dampaknya tetap terasa.
Ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat anjlok 20 persen sepanjang 2025. Anehnya, penurunan itu tidak terlalu memukul total ekspor. Permintaan dari kawasan lain justru menopang kinerja perdagangan.
Ekspor tetap menjadi titik terang di tengah langit ekonomi yang mendung. Surplus perdagangan Tiongkok melonjak ke rekor USD 1,2 triliun. Menurut pejabat Tiongkok, itu adalah level surplus perdagangan global tertinggi dalam sejarah mereka.
BACA JUGA:Purbaya Siap Sikat 40 Perusahaan Baja Tiongkok Tak Bayar Pajak
BACA JUGA:Inovasi Kapal Selam Fendouzhe Terus Dikembangkan, Tiongkok Berambisi Taklukkan Laut Terdalam
Pengiriman ke negara-negara ASEAN naik 13,4 persen secara tahunan. Ekspor ke Afrika bahkan melesat 25,8 persen. Ke Uni Eropa, ekspor naik 8,4 persen meski impor dari kawasan itu menurun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: