Jam Nol Teheran
ILUSTRASI Jam Nol Teheran.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
ANGKA 13 itu sial. Mitosnya orang Barat bilang begitu. Tapi, malam itu, bagi Teheran, angka tersebut bukan takhayul. Itu matematika kematian.
Radar militer baru saja menangkap anomali gila: tiga belas pesawat raksasa mendarat serentak di pangkalan aju Timur Tengah. Jenisnya KC-135R Stratotanker. Perutnya gendut. Isinya bukan bom. Isinya avtur. Itu SPBU terbang.
Kenapa angka 13 itu mengerikan?
BACA JUGA:Israel Lancarkan Serangan Udara ke Teheran, Klaim Tepat Sasaran
Hitungan logistiknya sederhana. Satu tanker saja cukup untuk ”menyusui” satu skuadron jet tempur taktis. Kalau Pentagon mengirim 13 sekaligus, itu bukan latihan. Itu malah seperti persiapan kiamat.
Kecuali satu hal: Amerika Serikat (AS) sedang menggelar karpet merah di stratosfer. Mereka membangun jalan tol udara.
JALAN TOL MALAIKAT MAUT
Jalan tol itu bukan untuk pesawat biasa. Itu jalur khusus buat si malaikat pencabut nyawa: B-21 Raider.
Pesawat pengebom siluman tersebut haus sekali. Jika ia terbang langsung dari Pangkalan Whiteman di Missouri atau dari Diego Garcia untuk menghindari radar, ia tidak bisa sampai ke Teheran tanpa ”minum” berkali-kali di awan.
BACA JUGA:Pemimpin Tertinggi Hamas Ismail Haniyeh Tewas Dibunuh di Teheran
Kehadiran 13 tanker itu adalah kode keras. AS tidak berniat menyerang dari pangkalan tetangga seperti Qatar. Terlalu dekat. Terlalu berisiko bocor. Mereka akan memukul dari jarak jauh. Senyap. Tiba-tiba.
Tujuannya cuma satu: Tebas leher.
Istilah militernya decapitation strike. Donald Trump, pedagang ulung itu, benci perang parit. Boros. Lama. Ia pilih opsi hemat: potong kepalanya, badannya pasti lumpuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: