Satu Menit sebelum Iran Berdarah
ILUSTRASI Satu Menit sebelum Iran Berdarah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
DUNIA rasanya nyaris berhenti berputar. Benar-benar nyaris. Jarum jam di dinding command center Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar, seolah membeku. Suasana di sana tidak lagi tenang. Tapi, tegang. Jenis kecemasan yang mencekik sebelum badai besar gurun pasir menghantam.
Para pilot pesawat pengebom strategis B-52 sudah duduk di kokpit. Mesin sudah dipanaskan. Koordinat target di Teheran sudah dikunci. Kode otorisasi peluncuran sudah ada di tangan.
Bocoran dari ”orang dalam” militer di Tel Aviv bikin merinding. Perintah itu tidak lagi ditunggu dalam hitungan jam. Tapi menit. Jari sudah di atas tombol. Napas sudah ditahan. Tinggal satu tarikan pelatuk.
BACA JUGA:Ekonomi Global Cemas, Eskalasi AS-Iran Bikin Harga Minyak Naik
Lalu, di seberang samudra, sebuah telepon merah di Ruang Oval Gedung Putih berbunyi.
Donald Trump, presiden ke-47 Amerika Serikat, sambil mengangkat gagang telepon itu. Perintahnya singkat. Padat. Tanpa debat.
”Mundur. Batalkan.”
Seketika itu juga, skenario Perang Dunia III digulung kembali. Para pilot diperintahkan mematikan mesin. Rudal-rudal jelajah yang sudah ”lapar” kembali masuk ke perut kapal perang. Langit Teluk Persia yang tadinya mendidih mendadak dingin.
BACA JUGA:Trump Segera Berlakukan Tarif 25% Bagi Setiap Negara yang Berbisnis Dengan Iran
BACA JUGA:500 Orang Tewas Dalam Gelombang Protes di Iran, Trump Pertimbangkan Intervensi Militer
Banyak orang menghela napas lega. Mereka pikir perdamaian telah menang. Tapi, para pembaca cerdik yang biasa membaca peta di balik layar, pembatalan itu justru lebih mengerikan daripada ledakan bom.
Mengapa?
Karena saat AS mundur selangkah, ada raksasa lain yang maju dua langkah. Dalam kegelapan malam itulah, papan catur geopolitik dunia berubah total. Mari kita bedah satu per satu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: