Satu Menit sebelum Iran Berdarah
ILUSTRASI Satu Menit sebelum Iran Berdarah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Seminggu sebelum drama pembatalan serangan itu, sebuah operasi senyap yang sangat rapi terjadi di Venezuela.
Nicolas Maduro, presiden Venezuela yang licin itu, akhirnya ”diambil”.
Tim yang turun kelas berat. Delta Force. Unit hantu CIA ground branch. Ditambah satgas oranye. Kerjanya bersih. Tanpa drama perlawanan. Tahu-tahu Maduro sudah ”pindah rumah”. Dari istana ke sel tahanan AS.
Apa hubungannya dengan Iran?
Sangat erat. Venezuela adalah ”kaki logistik” Iran di belahan bumi barat. Selama bertahun-tahun, Karakas menjadi tempat cuci uang bagi operasi hitam Iran. Ingat kasus Robert M. Sensi? Eks agen CIA yang membelot itu baru saja ditangkap awal Januari. Ia dituduh mencuci uang USD750.000 untuk kartel Jalisco New Generation. Ia juga yang mengatur penjualan senjata kelas berat seperti M16 dan peluncur granat.
Uang haram dari narkoba dan senjata itulah yang sering dipakai untuk membiayai operasi proksi anti-Barat.
Dengan jatuhnya Maduro dan tertangkapnya operator seperti Sensi, jalur logistik keuangan Iran diamputasi. AS sedang memakai strategi pengepungan klasik. Sebelum memukul kepala ularnya di Teheran, mereka potong dulu kaki-kakinya di Venezuela. Suplai dana segar untuk Hizbullah dan operasi rahasia Iran di luar negeri kini macet total.
SELAMAT TAHUN BARU, AGEN!
Mari kita geser fokus ke medan tempur yang tak kasatmata. Perang informasi.
Mike Pompeo, mantan direktur CIA dan menteri luar negeri era Trump yang pertama. Ia kembali ke panggung dengan gaya koboi. Lewat akun media sosial X, ia menulis pesan yang sangat provokatif.
Ia mengucapkan ”selamat tahun baru”.
Normal? Tidak juga.
Ia mengucapkannya untuk rakyat Iran yang sedang demo di jalanan. Dan, ada bagian paling sarkastik, ternyata ia juga mengucapkannya untuk ”setiap agen dinas rahasia Israel yang berjalan di samping mereka”.
Ini adalah perang psikologis tingkat tinggi. Pompeo ingin menanamkan paranoia di benak rezim Teheran. Ia ingin para Mullah merasa bahwa setiap orang di kerumunan pasar, setiap mahasiswa yang berteriak, bisa jadi adalah agen Israel.
Dan, faktanya, Israel memang tidak tinggal diam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: