Satu Menit sebelum Iran Berdarah
ILUSTRASI Satu Menit sebelum Iran Berdarah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Jadi, strategi Washington sangat beku dan kalkulatif: one bullet, two enemies, ’satu peluru, dua musuh’.
Jika Iran dibuat rusuh, jika terjadi perang saudara di Teheran, rantai pasok logistik ke Rusia akan putus. Para teknisi Iran akan ditarik pulang. Pengiriman komponen akan macet. Akibatnya, mesin perang Putin di Ukraina akan tersedak. Ia akan kehabisan stok drone.
AS sedang berusaha membunuh ambisi Rusia dengan cara menikam jantung logistiknya di Iran. Itu adalah strategi decapitation atau pemenggalan kepala logistik.
BURUNG KENARI MATI
Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah perang besar akan meletus?
Ada satu indikator yang tidak pernah bohong. Perhatikan langkah para diplomat.
Kementerian Luar Negeri Prancis di Quai d’Orsay tiba-tiba mengeluarkan perintah darurat. Tarik semua diplomat. Kosongkan kedutaan. Evakuasi warga negara.
Dalam dunia strategis, langkah itu dikenal sebagai fenomena ”kenari di dalam tambang”. Dulu penambang membawa burung kenari ke dalam terowongan. Jika burung itu mati atau pingsan, berarti gas beracun sudah menyebar dan manusia harus segera lari.
Diplomat Prancis adalah burung kenari itu. Dinas intelijen mereka, DGSE, punya kuping paling tajam di bekas wilayah Persia. Jika mereka memutuskan untuk lari, artinya mereka tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Mereka mencium bau mesiu dan deru mesin pembunuh.
Mereka tahu bahwa ”perdamaian” yang diteriakkan Trump di media sosial hanyalah ilusi.
SANDIWARA GEDUNG PUTIH
Jangan remehkan insting politik Trump. Ia tahu cara memutarbalikkan situasi.
Setelah membatalkan serangan udara, ia tidak diam. Ia memainkan peran sebagai ”pahlawan kemanusiaan”.
Di akun Truth Social miliknya, Trump mengutip berita dari Fox News. Ia mengeklaim bahwa para demonstran di Iran batal dihukum mati karena peringatan keras darinya.
”Ini kabar baik. Semoga berlanjut!” tulisnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: