Satu Menit sebelum Iran Berdarah

Satu Menit sebelum Iran Berdarah

ILUSTRASI Satu Menit sebelum Iran Berdarah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Mereka terpaksa membangun ”Tembok Gorgan Besar” digital.

Sumber tertutup melaporkan bahwa Iran sudah tujuh hari gelap gulita. Internet global diputus total. Kabel serat optik ke luar negeri dimatikan. Sebagai gantinya, mereka mengaktifkan ”national information network”. Intranet lokal.

Rakyat Iran dikurung dalam tempurung digital. Gelap gulita. Mereka hanya bisa berkirim pesan ke tetangga, tapi dunia luar mati total. Google nol. Twitter nol. Instagram lenyap. Tujuannya cuma satu. Menyumbat kebocoran. Agar video darah yang tumpah di aspal tidak rembes ke luar. Agar dunia dibuat buta dan tuli total.

Namun, AS punya kunci duplikat untuk menembus tembok itu.

Namanya Starlink.

Di perbatasan barat (Kurdistan) dan tenggara (Baluchestan), tiba-tiba ribuan terminal internet satelit menyala. Pemerintah mencatat lonjakan trafik data dari wilayah itu. AS memberikan ”bantuan udara digital”. Tidak menjatuhkan paket makanan, tetapi menjatuhkan sinyal wifi dari luar angkasa.

Garda Revolusi berusaha memblokir sinyal itu dengan jammer elektronik buatan Rusia. Namun, teknologi satelit orbit rendah itu terlalu lincah. Video resolusi 4K yang merekam kekejaman aparat tetap bocor. Mengalir deras ke server di Eropa. Membanjiri lini masa media sosial kita.

Ini adalah definisi perang generasi kelima (5GW). Senjata utamanya bukan peluru, melainkan data. Siapa yang menguasai narasi, ia yang menang.

SATU PELURU DUA JANTUNG

Pertanyaan paling mendasar dari semua kekacauan ini adalah kenapa sekarang? Kenapa AS begitu bernafsu membakar Iran di awal 2026?

Apakah karena mereka peduli pada HAM rakyat Iran? Jangan naif. Dalam kamus geopolitik, moralitas adalah barang mewah yang tidak laku dijual.

Jawabannya ada jauh di utara. Di Moskow.

Data dari FinCEN Advisory 2025 menampar fakta yang selama ini samar. Iran bukan sekadar sekutu politik Rusia. Iran adalah ”pompa bensin” dan ”pabrik peluru” bagi mesin perang Vladimir Putin.

Lihat fasilitas di Alabuga, Tatarstan, Rusia. Di sana berdiri pabrik raksasa yang memproduksi drone pembunuh Shahed. Siapa yang menyuplai teknologinya? Iran. Siapa yang mengirim komponen kuncinya? Iran. Lewat perusahaan cangkang bernama Sahara Thunder. Nilai kontraknya tembus USD1,75 miliar.

Hingga pertengahan 2025 saja, Rusia sudah menembakkan lebih dari 28.000 drone Shahed ke Ukraina. Tanpa Iran, pabrik itu berhenti beroperasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: