Beda Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal vs Imkanur Rukyat, Cara Muhammadiyah dan NU Menentukan 1 Syawal 2026
Perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah membuat potensi perbedaan Idulfitri selalu ada. Meski begitu, keduanya memiliki dasar ilmiah dan keagamaan masing-masing.--Pinterest
HARIAN DISWAY - Penentuan 1 Syawal atau Hari Raya Idulfitri di Indonesia kerap menjadi perhatian masyarakat setiap tahun.
Pasalnya, metode penetapan awal bulan Hijriah yang digunakan organisasi Islam di Tanah Air tidak selalu sama.
Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, memiliki pendekatan berbeda dalam menentukan awal bulan Syawal.
Perbedaan tersebut terletak pada metode yang digunakan. Yakni hisab hakiki wujudul hilal dan imkanur rukyat.

Tim rukyatul hilal melakukan pengamatan bulan menggunakan teleskop saat matahari terbenam untuk menentukan awal Syawal--Freepik
Muhammadiyah Gunakan Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Muhammadiyah menetapkan awal bulan Hijriah dengan metode hisab hakiki wujudul hilal. Yaitu perhitungan astronomi untuk mengetahui posisi bulan secara matematis.
Dalam metode itu terdapat tiga kriteria utama yang harus terpenuhi. Pertama, telah terjadi ijtimak atau konjungsi antara matahari dan bulan sebelum matahari terbenam.
Kedua, posisi bulan masih berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Ketiga, bulan terbenam setelah matahari.
Jika ketiga syarat tersebut terpenuhi, maka hilal dianggap telah “wujud” atau sudah ada. Sehingga keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru dalam kalender Hijriah.
BACA JUGA:Teleologi Ramadan
BACA JUGA:Tradisi Maleman di Bulan Ramadan: Asal-usul, Makna, dan Keunikan di Malam Ganjil
Karena menggunakan perhitungan astronomi, Muhammadiyah biasanya dapat menetapkan jadwal awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha jauh hari sebelumnya.
NU Gunakan Metode Imkanur Rukyat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: beberapa sumber