Perang Iran dan Kompleksitas Geopolitik di Timur Tengah
PENULIS seusai nyekar di makam Yasser Arafat di Ramallah, Palestina.-AI-
PERANG Iran melawan israel dan amerika serikat memasuki pekan ketiga. Belum ada tanda-tanda kapan PERANG akan berakhir. Namun, dampak PERANG sudah mulai dirasakan masyarakat dunia. Bagi kita masyarakat di Indonesia, perlu mulai bersiap-siap: harga bensin naik, inflasi meningkat, dan bank punya alasan mengerek bunga pinjaman lebih tinggi.
Perang di Timur Tengah saat ini bukan tentang akhir zaman, melainkan tentang ancaman terhadap masyarakat dunia yang akan menghadapi kelaparan dan kemiskinan massal. Sembari berharap agar perang segera usai, berikut gambaran singkat untuk memahami kompleksitas geopolitik di Timur Tengah saat ini.
TIMUR TENGAH YANG BERBEDA
Perebutan penguasaan ladang minyak di Teluk bisa menjadi salah satu faktor penyebab mengapa kawasan Jazirah Arab tak pernah lepas dari gejolak. Wilayah yang kaya minyak tersebut menjadi perebutan negara-negara Barat yang menjadi pemenang dalam Perang Dunia II, khususnya amerika serikat (amerika) dan Inggris.
Bahkan, Inggris sendiri sudah melakukan ”gerilya” minyak bumi di Iran sejak usainya Perang Dunia I, awal tahun 1920-an. Perusahaan minyak Inggris, BP (British Petroleum), adalah perusahaan minyak negara Barat pertama yang beroperasi di Timur Tengah.
BACA JUGA:Lebaran, Perang, dan Nihilisme Religius
BACA JUGA:Antara Mudik dan Perang: Tubuh yang Tersandera Drama Geopolitik
Dinamika politik di dalam negeri Iran hingga mencapai puncaknya tahun 1979 tak lepas juga dari perebutan pengelolaan ladang minyak tersebut.
Syah Iran tumbang dan berdirilah Republik Islam Iran. Inggris dan amerika akhirnya kehilangan ”konsesi” minyak di Iran. Namun, upaya Barat untuk menguasai kendali minyak di Negeri Persia itu tak pernah reda hingga saat ini. Hingga terjadi perang seperti yang kita saksikan sekarang.
Perang Iran vs israel dan amerika sekarang tak lepas dari perubahan peta geopolitik di Timur Tengah, sejak usainya Perang Dunia I hingga sekarang. Perlahan tapi pasti, Timur Tengah telah berubah. Hegemoni amerika dan perluasan wilayah israel adalah realitas objektif yang paling nyata saat ini.
Negara-negara Teluk yang awalnya paling keras menolak berdirinya negara israel (1948) pelan tapi pasti ”tumbang”. Polanya ada dua. Pertama, presiden yang anti-amerika-nya digulingkan atau negara tersebut menjadi sekutu dan kawan sejati amerika.
BACA JUGA:Perang, Pasar, dan Politik Informasi Publik
BACA JUGA:Perang Narasi Era Akal Imitasi
Kita sebut di sini. Yang presidennya digulingkan dan dihukum mati oleh rakyatnya sendiri dengan bantuan amerika: Presiden Irak Saddam Hussein dan Presiden Libya Muammar Gaddafi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: